Sentuhan Punggung Terbukti Efektif Menenangkan Bayi: Studi Ungkap Mekanisme Genetik
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Jepang menemukan bahwa mengelus punggung bayi manusia dan tikus muda secara signifikan mengurangi gerakan spontan dan menurunkan detak jantung.
- Efek menenangkan ini terkait dengan ekspresi gen tertentu di hipotalamus yang dipengaruhi oleh pengalaman kontak fisik awal setelah lahir.
- Temuan ini membuka jalan bagi rekomendasi pengasuhan berbasis bukti ilmiah dan pemahaman lebih baik terhadap anak dengan hipersensitivitas sentuhan.

Sentuhan lembut pada punggung, bukan bagian tubuh lain, ternyata menjadi kunci efektif untuk menenangkan bayi dan balita. Sebuah studi terbaru dari Universitas Toho, Jepang, mengungkap bahwa stimulasi pada area tersebut mampu meredam gerakan spontan, menurunkan detak jantung, dan memicu rasa kantuk—baik pada manusia maupun hewan percobaan. Temuan ini memperkuat bukti ilmiah tentang pentingnya kontak fisik dalam pengasuhan anak usia dini.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Communications Biology pada 3 Juli lalu ini melibatkan 15 pasangan ibu-anak dengan rentang usia 0 hingga 2 tahun. Para ibu diminta mengelus tiga area berbeda—belakang kepala, punggung, dan perut—masing-masing selama satu menit. Hasilnya, hanya elusan pada punggung yang secara signifikan mengurangi pergerakan kepala dan tubuh bagian bawah. Sebaliknya, elusan di belakang kepala justru meningkatkan detak jantung dan kewaspadaan bayi.
Untuk memahami mekanisme di balik efek tersebut, tim peneliti beralih ke model tikus. Mereka mengelus punggung tikus muda dengan kuas selama tiga menit, meniru perilaku induk tikus yang menjilati seluruh tubuh anaknya. Hasilnya, aktivitas otot menurun, detak jantung melambat, dan komponen gelombang otak frekuensi rendah meningkat—tanda awal tidur. Bahkan saat tikus diisolasi, elusan punggung terus-menerus mampu menekan lonjakan hormon stres kortikosteron.
Yang menarik, efek menenangkan ini tidak muncul pada tikus yang dibesarkan tanpa kontak induk (dibesarkan dengan tangan). Tikus-tikus tersebut tidak menunjukkan penurunan gerakan, detak jantung, atau stres saat punggungnya dielus. Hal ini mengindikasikan bahwa pengalaman kontak fisik awal setelah lahir membentuk mekanisme saraf yang mendasari respons menenangkan.
Analisis lebih lanjut mengidentifikasi satu gen di hipotalamus—pusat pengaturan tidur dan stres—yang ekspresinya menurun tajam setelah elusan punggung. Ketika peneliti menekan ekspresi gen tersebut pada tikus normal, respons menenangkan pun lenyap, serupa dengan tikus yang kekurangan kontak ibu. Penemuan ini membuka pintu untuk memahami dasar molekuler dari efek sentuhan pada perkembangan emosi dan fisiologi anak.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi praktis dalam pola pengasuhan. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya stimulasi dini, hasil studi ini menegaskan bahwa sentuhan pada punggung—bukan sekadar menggendong atau menepuk—memiliki efek fisiologis yang terukur. Hal ini dapat menjadi dasar bagi program edukasi orang tua, terutama dalam merawat bayi prematur atau anak dengan gangguan pemrosesan sensorik. Sachine Yoshida, dosen neurosains perkembangan di Universitas Toho yang memimpin studi, menyatakan bahwa temuan ini diharapkan dapat menghasilkan teknik pengasuhan berbasis bukti ilmiah serta pemahaman dan dukungan bagi anak dengan hipersensitivitas sentuhan atau kecemasan.
Ke depan, riset lebih lanjut diperlukan untuk menguji apakah efek serupa berlaku pada berbagai budaya dan kelompok usia, serta bagaimana variasi durasi dan intensitas sentuhan memengaruhi respons. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah elusan punggung oleh pengasuh selain ibu—seperti ayah atau kakek-nenek—memberikan efek yang sama? Jawabannya bisa memperkaya praktik pengasuhan di Indonesia yang kaya akan tradisi sentuhan antargenerasi.



