Spacex Saham Anjlok di Bawah Harga IPO: Apakah Gelembung Teknologi Mulai Mengempis?
Baca dalam 60 detik
- Saham SpaceX sempat terperosok ke level terendah sejak IPO, mencerminkan koreksi tajam setelah valuasi sempat menembus US$2,6 triliun.
- Tekanan jual dipicu aksi ambil untung, kekhawatiran atas belanja AI berbasis utang, dan potensi kenaikan suku bunga The Fed.
- Ekspektasi pasar kini tertuju pada laporan keuangan perdana SpaceX dan uji terbang Starship ke-13 yang bisa menentukan arah saham ke depan.

SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, mencatatkan sejarah kelam pada perdagangan Rabu (15/7) ketika sahamnya untuk pertama kalinya jatuh di bawah harga perdana (IPO) sebesar US$135. Saham sempat menyentuh US$132,28 sebelum ditutup sedikit di atas level IPO di US$135,27. Anjloknya harga saham ini menjadi sinyal bahwa euforia Wall Street terhadap saham teknologi bisa memudar dalam sekejap, bahkan bagi perusahaan yang baru sebulan lalu mencatatkan IPO terbesar sepanjang masa dan menjadikan Musk sebagai triliuner pertama dunia.
Koreksi ini terbilang dramatis mengingat pada pertengahan Juni lalu valuasi SpaceX sempat melampaui US$2,6 triliun, mengungguli raksasa teknologi seperti Microsoft dan Amazon. Kini kapitalisasi pasarnya menyusut menjadi sekitar US$1,78 triliun. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang dibiayai utang, serta ancaman kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve yang bisa menekan valuasi saham teknologi yang sudah mahal.
Menurut Justus Parmar, CEO Fortuna Investments yang merupakan investor SpaceX, tekanan jual berasal dari keinginan sejumlah pemegang saham untuk mengambil likuiditas. โAda banyak orang yang memegang saham ini dan mungkin sebagian dari mereka ingin mencairkan posisi. Anda akan melihat lebih banyak lagi sepanjang tahun ini,โ ujarnya. Senada dengan Parmar, analis pasar senior Capital.com Daniela Hathorn menilai aksi ambil untung, penilaian ulang valuasi, dan pembubaran posisi beli yang sangat agresif menjadi penyebab utama pelemahan.
Kritikus yang sejak awal meragukan valuasi SpaceX kini mendapat amunisi baru. Perusahaan yang masih membukukan kerugian US$4,9 miliar tahun lalu dan memiliki banyak proyek ambisius yang belum teruji dinilai terlalu mahal. Steve Sosnick, chief market analyst Interactive Brokers, mengatakan bahwa meskipun penurunan beberapa dolar di bawah harga IPO bukanlah tragedi, SpaceX adalah saham yang sangat diperhatikan dan memiliki peran penting dalam psikologi investor. โTidak ada katalis baru yang mengingatkan orang mengapa mereka membeli SpaceX,โ tambahnya.
Masuknya SpaceX ke indeks Nasdaq 100 pada akhir Juni ternyata tidak mampu membalikkan tren. Sejak tergabung dalam indeks tersebut, saham SpaceX justru telah merosot sekitar 13%. Kini perhatian investor beralih ke laporan keuangan pertama pasca-IPO yang dijadwalkan pada pekan pertama Agustus. Setelah laporan tersebut, masa lock-up tahap pertama akan berakhir, memungkinkan karyawan dan investor awal untuk menjual sebagian saham mereka. Analis memperingatkan hal ini bisa menambah tekanan jual.
Selain faktor fundamental, perkembangan proyek unggulan SpaceX juga menjadi sorotan. Uji terbang Starship ke-13 yang direncanakan dalam waktu dekat dinilai krusial karena keberhasilan roket tersebut akan menurunkan biaya peluncuran secara signifikan dan memungkinkan proyek-proyek jangka panjang seperti pusat data orbital dan misi bulan. Parmar mengingatkan bahwa ini baru 30 hari perdagangan dari sebuah eksperimen panjang. โElon mendapat US$85 miliar untuk membawa SpaceX ke level pertumbuhan berikutnya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk melihat hasilnya, bukan 30 hari perdagangan,โ katanya.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa euforia IPO raksasa teknologi global bisa berbalik arah dengan cepat. Meski pasar modal domestik tidak secara langsung terpengaruh, sentimen negatif terhadap saham teknologi AS kerap menular ke bursa Asia, termasuk Indonesia. Jika koreksi SpaceX berlanjut, saham-saham teknologi di Bursa Efek Indonesia yang memiliki valuasi tinggi juga berpotensi terimbas aksi jual asing. Pertanyaan besarnya: apakah ini awal dari koreksi panjang atau sekadar jeda sebelum reli berikutnya?



