KLM Nurul Salsa Alami Kebocoran di Perairan Selayar: 46 Penumpang Terjebak, Evakuasi Terhambat Cuaca Buruk
Baca dalam 60 detik
- Kapal KLM Nurul Salsa yang membawa 46 penumpang dilaporkan bocor di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7).
- Enam penumpang telah dievakuasi, namun upaya penyelamatan terhambat gelombang tinggi akibat angin musim timur.
- Tim SAR gabungan masih menunggu kapal besar dari Pasimasunggu untuk menjangkau lokasi kejadian.

Kapal motor KLM Nurul Salsa yang mengangkut 46 penumpang mengalami kebocoran lambung saat berlayar di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (15/7). Hingga berita ini diturunkan, enam orang berhasil dievakuasi, sementara puluhan lainnya masih menunggu pertolongan di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Kebocoran terjadi di bagian lambung kapal, yang diperparah dengan kerusakan mesin. Awak kapal sempat mengoperasikan pompa secara manual untuk mengeluarkan air yang masuk, namun gelombang tinggi membuat upaya tersebut tidak optimal. Kapal dilaporkan membawa penumpang dewasa dan anak-anak.
Kasubsi Penmas Polres Kepulauan Selayar, Aipda Suardi Andre, mengonfirmasi jumlah penumpang dan korban selamat. "Iya, ada 46 orang di kapal, sedangkan ada enam orang yang berhasil dievakuasi," ujarnya dalam keterangan resmi.
Proses evakuasi terkendala cuaca buruk. Kasat Polairud Polres Kepulauan Selayar, Iptu Amat Soedachlan, menjelaskan bahwa tim SAR gabungan sejak siang telah bersiaga di Pelabuhan Appatanah. "Kondisi ombak sangat besar sehingga kami masih menunggu armada kapal yang lebih besar dan siap digunakan," katanya. Angin musim timur yang bertiup kencang menyebabkan tinggi gelombang di perairan Selayar mencapai level berbahaya bagi kapal kecil.
Kapolres Selayar AKBP Didid Imawan menegaskan bahwa prioritas utama adalah keselamatan seluruh penumpang dan awak kapal. "Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Kami berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga tim dapat bergerak menuju lokasi dan seluruh penumpang KLM Nurul Salsa dapat segera dievakuasi dalam keadaan selamat," ungkapnya. Tim SAR gabungan masih menunggu kapal dari Pasimasunggu yang dinilai lebih mampu menghadapi gelombang tinggi.
Insiden ini kembali menyoroti risiko pelayaran antarpulau di Indonesia, terutama saat musim angin timur yang kerap memicu gelombang ekstrem. Kecelakaan kapal di wilayah timur Indonesia bukanlah hal baru; data Badan SAR Nasional mencatat puluhan insiden serupa setiap tahunnya, sebagian besar disebabkan oleh cuaca buruk dan keterbatasan infrastruktur keselamatan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah regulasi keselamatan pelayaran dan kesiapan armada SAR sudah memadai untuk melindungi penumpang di jalur-jalur rawan seperti perairan Selayar?



