Sabut Kelapa, Jalan Damai Petani Simeulue dengan Monyet Ekor Panjang
Baca dalam 60 detik
- Petani di Simeulue mengubah kelapa yang dirusak monyet menjadi produk bernilai jual, seperti cocopeat dan kerajinan tangan.
- Program ini menekan kerugian petani hingga Rp4,1 juta per bulan sekaligus mengubah persepsi terhadap satwa liar.
- Pendekatan ekonomi-konservasi ini menjadi model koeksistensi yang bisa direplikasi di daerah rawan konflik manusia-primata.

Konflik antara petani kelapa dan monyet ekor panjang di Desa Batu Ralang, Simeulue, Aceh, perlahan mereda bukan karena pengusiran, melainkan melalui pemanfaatan sabut kelapa yang sebelumnya dianggap limbah menjadi produk ekonomi bernilai. Inisiatif ini tidak hanya menekan kerugian petani, tetapi juga membuka jalan bagi koeksistensi antara manusia dan primata yang selama ini dianggap hama.
Mitra Rofendi, ketua Kelompok Tani SIMCO, menuturkan bahwa setiap bulan kerugian akibat monyet yang memakan buah kelapa bisa mencapai Rp4,1 juta. Angka itu setara dengan pendapatan yang hilang dari puluhan pohon kelapa yang dirusak. Namun, sejak kelompoknya mulai mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat, cocofiber, dan aneka kerajinan, beban ekonomi itu berkurang drastis. "Sejak kami bisa memanfaatkan sabut kelapa, dampak kerugian mulai berkurang," ujarnya.
Sebelum pendekatan ini, sebagian petani memilih membersihkan semak-semak agar monyet tidak bersarang, bahkan ada yang menggunakan kekerasan. Namun, menurut Mitra, tindakan tersebut tidak baik karena monyet tetap bagian dari ekosistem. Kini, melalui pelatihan yang difasilitasi oleh The Long-Tailed Macaque Project, masyarakat belajar mengolah sabut kelapa menjadi produk bernilai jual. Kelompok perempuan setempat, misalnya, membuat tas, pot bunga, sandal, lukisan, dan kaligrafi dari serat sabut.
Ilham Kurnia, Manajer Program The Long-Tailed Macaque Project, menjelaskan bahwa ide ini muncul setelah diskusi panjang dengan masyarakat. Selama ini, setiap buah kelapa yang dimakan monyet dianggap sebagai kerugian penuh, padahal sabutnya masih bisa dimanfaatkan. Program membeli sabut dari petani seharga Rp1.500 per buah, kemudian mengolahnya menjadi bahan baku yang dikerjakan kembali oleh warga. "Tujuan utama program ini bukan mengganti seluruh kerugian petani, tetapi menekan dampaknya," kata Ilham.
Pendekatan ini menjadi contoh nyata bagaimana konservasi tidak harus berjalan sendiri tanpa menyentuh aspek ekonomi. Ilham menegaskan, banyak program konservasi gagal karena hanya fokus pada penyelamatan satwa tanpa menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat. "Kalau kami datang hanya membawa program konservasi, masyarakat tentu bertanya, kenapa hanya peduli sama monyet, tetapi tidak peduli pada kehidupan mereka," ujarnya. Dengan adanya manfaat ekonomi langsung, 15 petani yang tergabung dalam program berkomitmen untuk lebih toleran dan tidak melukai monyet.
Meski demikian, tantangan masih membayangi. Mitra mengakui bahwa keterbatasan modal menjadi kendala utama. Kelompoknya ingin membeli lebih banyak sabut dari petani, tetapi dana terbatas. Selain itu, posisi Simeulue sebagai daerah kepulauan membuat biaya distribusi produk jadi lebih tinggi. Dukungan pemerintah daerah menjadi faktor kunci agar program ini berkelanjutan.
Kajian di Journal of Asia-Pacific Biodiversity (2024) menunjukkan bahwa konflik manusia dengan monyet ekor panjang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Minimnya model penyelesaian yang menguntungkan kedua belah pihak membuat inisiatif di Simeulue menjadi sorotan. Pertanyaannya, mampukah model ini direplikasi di daerah lain yang juga bergulat dengan konflik serupa?



