Proyeksi Pendapatan Netflix Kuartal III Tak Capai Target, Saham Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Netflix memproyeksikan pendapatan kuartal III sebesar 12,86 miliar dolar AS, di bawah ekspektasi analis yang mencapai 13 miliar dolar AS.
- Perusahaan akan mengurangi frekuensi laporan jam tayang menjadi setahun sekali mulai 2027, sejalan dengan fokus pada metrik keuangan utama.
- Tekanan persaingan dari Disney, YouTube, dan TikTok mendorong Netflix menggenjot iklan dan konten langsung, termasuk siaran NFL.

Netflix mencatatkan proyeksi pendapatan dan laba untuk kuartal ketiga yang berada di bawah perkiraan analis, menandai tantangan baru bagi raksasa streaming itu di tengah persaingan ketat industri hiburan. Dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis (16/7) waktu setempat, perusahaan memperkirakan pendapatan Juli-September mencapai 12,86 miliar dolar AS, lebih rendah dari konsensus pasar sebesar 13 miliar dolar AS. Laba per saham dilusian diproyeksikan 82 sen, sementara analis memperkirakan 84 sen.
Kabar tersebut langsung menekan harga saham Netflix yang turun sekitar 4 persen dalam perdagangan setelah jam bursa menjadi 71,30 dolar AS. Sebelum laporan ini, nilai perusahaan telah menyusut lebih dari seperlima karena kekhawatiran investor mengenai kemampuan Netflix mendongkrak pendapatan dan menambah pelanggan baru. Pada April lalu, Netflix mengumumkan memiliki lebih dari 325 juta pelanggan berbayar dan masih melihat ruang untuk pertumbuhan.
Di tengah tekanan itu, Netflix mengambil langkah strategis dengan mengurangi transparansi data jam tayang. Mulai Januari 2027, laporan jam tayang yang sebelumnya dirilis dua kali setahun akan menjadi setahun sekali. Perusahaan beralasan ingin "tetap fokus pada metrik keuangan utamaโpendapatan dan laba operasional." Langkah ini mengikuti keputusan sebelumnya pada 2025 untuk tidak lagi mempublikasikan jumlah pelanggan kuartalan.
Untuk kuartal yang baru berakhir, kinerja keuangan Netflix relatif sesuai ekspektasi. Pendapatan kuartal kedua tercatat 12,56 miliar dolar AS dengan laba per saham 80 sen. Kesuksesan drama kriminal "I Will Find You" dan film animasi "Swapped" turut mendongkrak performa tersebut. "Kinerja keuangan kami tetap solid dan kami berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahun ini," tulis manajemen dalam surat kepada pemegang saham.
Persaingan yang semakin sengit menjadi latar belakang langkah-langkah ini. Netflix tidak hanya bersaing dengan perusahaan media tradisional seperti Walt Disney, tetapi juga dengan YouTube yang kian dominan di ruang keluarga, serta aplikasi mobile seperti TikTok. Untuk mempertahankan pertumbuhan, Netflix mengandalkan periklanan dan konten langsung. Perusahaan mengulangi perkiraan pendapatan iklan sebesar 3 miliar dolar AS pada akhir tahun, dengan mengandalkan siaran langsung NFL yang diperluas untuk menarik lebih banyak pengiklan.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat penetrasi Netflix yang terus meningkat di Asia Tenggara. Dengan harga langganan yang kompetitif dan investasi pada konten lokal, Netflix berupaya mempertahankan pangsa pasar di tengah gempuran platform seperti Disney+ Hotstar dan Vidio. Keputusan mengurangi transparansi data jam tayang juga berpotensi mempersulit analis lokal dalam mengukur performa layanan streaming di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan utama adalah apakah strategi diversifikasi melalui iklan dan konten langsung cukup untuk mengimbangi perlambatan pertumbuhan pelanggan. Dengan NFL sebagai andalan baru, Netflix berharap dapat menarik demografi pengguna yang lebih luas, namun tekanan dari kompetitor dan ekspektasi investor yang tinggi tetap menjadi tantangan besar.



