Houthi Ancam Serang Fasilitas Minyak Saudi: Eskalasi Terbesar Sejak 2022
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Houthi Yaman mengancam akan menyerang fasilitas minyak dan infrastruktur vital Arab Saudi jika konflik meningkat.
- Peringatan ini muncul setelah serangan balasan di bandara Sanaa dan bandara di Arab Saudi, eskalasi terbesar sejak gencatan senjata 2022.
- Ketegangan dipicu oleh dugaan serangan Saudi ke bandara Sanaa yang dikendalikan Houthi, serta upaya Houthi menerbangkan pesawat Iran tanpa izin koalisi.

Yaman kembali menjadi pusat ketegangan Timur Tengah setelah kelompok Houthi mengancam akan menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur vital Arab Saudi jika konflik bersenjata antara kedua pihak terus meningkat. Ancaman itu disampaikan langsung oleh pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis (16/7), hanya beberapa hari setelah bandara Sanaa yang dikuasai kelompok tersebut dibombardir.
"Semua fasilitas minyak dan instalasi vital Saudi menjadi sasaran rudal dan drone kami jika mereka terlibat dalam agresi skala penuh terhadap negara kami dan bergerak menuju eskalasi," tegas al-Houthi. Ia juga menambahkan bahwa bandara Riyadh akan menjadi target balasan jika serangan terhadap bandara Sanaa berlanjut. "Persamaannya adalah bandara untuk bandara, pelabuhan untuk pelabuhan, dan blokade untuk blokade," ujarnya.
Peringatan ini merupakan eskalasi paling signifikan antara Houthi dan Arab Saudi sejak gencatan senjata yang disepakati pada 2022. Sebelumnya, pada Senin (13/7), Houthi menuduh Arab Saudi menyerang bandara Sanaa, yang kemudian dibalas dengan serangan terhadap bandara di Kerajaan Saudi. Pertukaran tembakan ini menandai pecahnya kembali permusuhan setelah relatif tenang selama lebih dari setahun.
Pemerintah Yaman yang diakui internasional, yang berbasis di Aden dan didukung Saudi, mengatakan serangan pada Senin itu dilakukan untuk mencegah pesawat Iran mendarat di Sanaa. Selama lebih dari satu dekade, setiap pesawat yang memasuki wilayah udara Yaman harus mendapatkan izin dari koalisi pimpinan Saudi, yang memberlakukan pembatasan tersebut atas permintaan pemerintah Yaman. Langkah Houthi yang mengatur penerbangan langsung dari Iran tanpa izin dinilai sebagai tantangan langsung terhadap otoritas koalisi dan pemerintah Yaman.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik Yaman-Saudi ini memiliki implikasi serius. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global. Setiap gangguan pada fasilitas minyak Saudi dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, yang pada gilirannya membebani anggaran subsidi energi dalam negeri. Selain itu, ketegangan di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb—jalur pelayaran vital bagi kapal-kapal Indonesia—berpotensi mengganggu rantai pasok komoditas dan meningkatkan biaya logistik.
Menurut analis keamanan Timur Tengah, ancaman Houthi ini tidak bisa dianggap remeh. Kelompok yang didukung Iran itu telah menunjukkan kemampuan rudal dan drone yang semakin canggih, termasuk serangan terhadap fasilitas minyak Saudi pada 2019 yang sempat memangkas separuh produksi minyak Kerajaan. "Jika Houthi benar-benar melancarkan serangan, dampaknya tidak hanya pada Saudi tetapi juga pada pasar energi global," ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, Arab Saudi tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mundur. Koalisi pimpinan Saudi terus memperketat blokade udara dan laut terhadap Yaman, yang oleh PBB disebut sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Sementara itu, Iran terus memasok senjata dan dukungan logistik kepada Houthi, menjadikan Yaman sebagai medan perang proksi antara Riyadh dan Teheran.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kedua pihak mampu menahan diri untuk tidak jatuh ke dalam perang skala penuh. Gencatan senjata 2022 memang meredakan pertempuran besar, tetapi akar konflik—termasuk blokade, kedaulatan udara, dan pengaruh Iran—masih belum terselesaikan. Dengan ancaman baru ini, prospek perdamaian Yaman kembali suram, sementara harga minyak dunia bersiap menghadapi guncangan baru.



