Ditinggal Bus di Tengah Malam: Kisah Penumpang Singapura Terlantar di Rest Area Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Seorang wisatawan Singapura ditinggal bus malam di rest area Malaysia pada pukul 04.15 setelah turun ke toilet.
- Manajemen bus tidak merespons laporan penumpang yang tertinggal, meskipun teman korban sudah memberi tahu kru.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang standar keselamatan dan layanan bus antarkota di kawasan Asia Tenggara.

Seorang warga Singapura berusia 35 tahun mengalami pengalaman menegangkan saat bepergian dengan bus malam dari Singapura ke Kuala Lumpur pada pertengahan Juni lalu. Ia ditinggalkan begitu saja oleh operator bus di sebuah rest area di Malaysia pada pukul 04.15 dini hari, setelah turun sebentar untuk menggunakan toilet.
Ernz, sapaan korban, menceritakan kejadian itu kepada media Singapura 8days.sg. Menurutnya, perjalanan yang seharusnya biasa saja berubah menjadi mimpi buruk ketika bus yang ditumpanginya tiba-tiba melaju pergi tanpa dirinya. โSaya melihat bus itu melaju menjauh di kejauhan dan meninggalkan saya,โ tulisnya di Instagram.
Teman Ernz yang masih berada di dalam bus sempat memberi tahu kru bahwa ada penumpang tertinggal. Namun, menurut Ernz, kru tidak menggubris dan tetap melanjutkan perjalanan. Temannya juga menduga bahwa tempat pemberhentian itu bukanlah rest area resmi, melainkan titik turun penumpang biasa.
Dalam keadaan panik, Ernz sempat mencoba menghentikan mobil yang melintas, tetapi segera menyadari risikonya. โLampu sorot mobil itu menyala sebentar, dan saya sadar sebaiknya berhenti melakukan itu,โ ujarnya. Untungnya, ia melihat sebuah mobil yang sedang berhenti di dekatnya. Setelah bertanya apakah sopir tersebut adalah pengemudi Grab, Ernz langsung memesan melalui aplikasi dan ternyata sopir yang sama menerima pesanannya. โSaat itulah saya merasa tidak terlantar lagi,โ katanya.
Lokasi persis tempat kejadian tidak diketahui Ernz, tetapi aplikasi Grab menunjukkan titik penjemputan sebagai "Pusat Servis SONY". Di sekitar lokasi hanya ada beberapa pengunjung warung makan dan sopir Grab. Tidak terlihat petugas keamanan atau staf perusahaan bus. โSyukurlah saya membawa ponsel, power bank, dan paspor. Dengan ponsel, setidaknya saya bisa mencari bantuan,โ tambah Ernz. Temannya yang masih di dalam bus membantu mengambil barang-barang yang tertinggal.
Sebelum insiden tersebut, perjalanan Ernz sudah bermasalah. Ia awalnya memesan bus pukul 23.00, tetapi dalam hitungan menit jadwal dimajukan menjadi pukul 22.00 tanpa penjelasan. Ketika ia tiba di titik penjemputan, bus belum datang dan ia harus menunggu hingga pukul 23.15. โJika Anda hanya turun sebentar ke toilet, Anda mungkin meninggalkan semua barang di bus,โ katanya mengenang.
Yang paling membuat Ernz frustrasi adalah ketidakpedulian operator bus setelah kejadian. Ia berulang kali mencoba menghubungi Billion Stars Express, tetapi tidak mendapat respons, meskipun video Instagramnya viral. Ironisnya, ia telah membayar asuransi perjalanan sebesar S$1,20, tetapi memilih tidak mengklaim karena masalah disebabkan oleh operator itu sendiri. โMereka tidak berusaha memperbaiki sama sekali,โ ujarnya.
Pengalaman ini mengubah cara Ernz memandang perjalanan bus malam. โSaya jadi ingin melakukan riset tentang perusahaan bus sebelumnya,โ katanya. Insiden ini juga menjadi pengingat bagi para pelancong untuk selalu membawa dokumen penting dan perangkat komunikasi saat turun dari bus, meskipun hanya untuk waktu singkat.
Bagi pelancong Indonesia yang kerap menggunakan bus antarkota ke Malaysia, kisah ini menjadi peringatan akan pentingnya memilih operator bus yang terpercaya dan memiliki standar keselamatan yang jelas. Di tengah maraknya perjalanan darat lintas batas, pengawasan terhadap operator bus antarkota di kawasan ASEAN masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius.
Ke depan, akankah insiden seperti ini mendorong regulator di Singapura dan Malaysia untuk memperketat aturan bagi operator bus antarkota? Atau justru akan membuat calon penumpang semakin selektif dalam memilih jasa transportasi? Yang jelas, pengalaman pahit Ernz membuka mata banyak orang bahwa kenyamanan dan keselamatan dalam perjalanan bus malam tidak boleh dianggap remeh.



