Gempa 5,9 Guncang Selandia Baru: Peringatan Tsunami Dicabut, Warga Diminta Waspada Arus Kuat
Baca dalam 60 detik
- Badan penanggulangan bencana Selandia Baru mencabut peringatan tsunami setelah gempa 5,9 magnitudo di lepas pantai barat Pulau Selatan, karena kekuatan gempa lebih kecil dari perkiraan awal.
- Gempa berpusat di kedalaman 76 km, sekitar 83 km barat Queenstown, memicu evakuasi di Milford Sound sebelum akhirnya diturunkan statusnya menjadi imbauan arus kuat.
- Kejadian ini mengingatkan kembali risiko seismik tinggi di Selandia Baru yang berada di batas lempeng Australia-Pasifik, dengan sejarah gempa mematikan seperti Christchurch 2011.

Otoritas penanggulangan bencana Selandia Baru mencabut peringatan tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa bumi berkekuatan 5,9 magnitudo mengguncang pesisir barat Pulau Selatan, Kamis (16/7) malam waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah analisis lanjutan menunjukkan gempa tersebut lebih kecil dari estimasi awal, sehingga potensi gelombang besar yang mengancam daratan dinyatakan tidak terjadi.
Badan Manajemen Darurat Nasional (NEMA) menyatakan status peringatan diturunkan menjadi imbauan. Masyarakat di wilayah pesisir yang sebelumnya diperintahkan segera mengungsi ke tempat tinggi kini hanya diminta mewaspadai arus laut yang kuat dan tidak biasa di sekitar pantai. โIni adalah penurunan status dari peringatan,โ demikian pernyataan resmi NEMA.
Menurut data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat gempa berada di kedalaman 76 kilometer, sekitar 83 kilometer sebelah barat Queenstown, kota wisata terkenal di Pulau Selatan. Guncangan terasa cukup kuat, terutama di kawasan Milford Sound, destinasi populer yang langsung diperintahkan evakuasi. Manajer sebuah hotel di Te Anau, kota terdekat, menggambarkan sensasi gempa kepada AFP: โSaya mendengar suara gemuruh mendekat lebih dulu. Guncangannya sangat keras. Saya pikir ini adalah gempa besar yang selama ini diperingatkan.โ
Meski peringatan dicabut, kejadian ini menjadi pengingat akan tingginya aktivitas seismik di Selandia Baru. Negara tersebut berada di pertemuan Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik, menjadikannya salah satu kawasan paling rawan gempa dan vulkanik di dunia. Pada hari yang sama, gempa berkekuatan 5,0 magnitudo juga terasa di lepas pantai Pulau Utara. Sejarah mencatat gempa dahsyat di Christchurch tahun 2011 berkekuatan 6,3 menewaskan 185 orang.
Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat posisi geografis yang sama-sama berada di Cincin Api Pasifik. Sistem peringatan dini tsunami di Indonesia, yang sempat diuji saat gempa Palu 2018, terus diperkuat. Kejadian di Selandia Baru menunjukkan pentingnya akurasi data awal dan respons cepat dalam penentuan status peringatan, karena kesalahan estimasi dapat menyebabkan kepanikan atau sebaliknya, kelengahan.
Ke depan, NEMA akan terus memantau aktivitas gempa susulan. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi arus kuat di pesisir yang bisa berlangsung beberapa jam ke depan. Pertanyaan yang mengemuka: seberapa cepat sistem peringatan dini dapat beradaptasi dengan dinamika gempa yang kerap berubah?



