Skandal Kokain Blue Peter: Richard Bacon Ungkap Rasa Malu yang Mendalam
Baca dalam 60 detik
- Mantan presenter Blue Peter, Richard Bacon, mengaku merasa sangat malu setelah pemecatannya akibat skandal kokain membuat ayahnya menangis tersedu-sedu.
- Ayah Bacon, seorang pengacara, menyembunyikan tangisnya di kamar mandi pada pagi hari setelah berita pemecatan Richard tersebar luas.
- Dua dekade kemudian, Bacon menerima kembali lencana Blue Peter dari presenter legendaris Peter Purves, menandai rekonsiliasi simbolis.

Skandal narkoba yang menimpa Richard Bacon, mantan presenter acara anak-anak legendaris Blue Peter, kembali mencuat ke permukaan. Bukan sekadar kisah kejatuhan karier, melainkan luka batin yang membekas hingga ke relung keluarga. Bacon mengaku bahwa momen paling memalukan dalam hidupnya bukanlah saat ia dipecat, melainkan ketika mengetahui ayahnya, Paul Bacon, menangis tersedu-sedu di kamar mandi karena peristiwa tersebut.
Pada akhir 1990-an, Bacon yang saat itu berusia 20-an tahun menjadi wajah segar Blue Peter, acara yang identik dengan nilai-nilai edukasi dan moral. Namun, kariernya hancur dalam sekejap setelah surat kabar News of the World memberitakan bahwa ia mengonsumsi kokain. Pemecatan pun tak terhindarkan. Dua dekade berselang, dalam podcast How to Fail, Bacon mengungkapkan dampak emosional yang jauh lebih dalam dari sekadar kehilangan pekerjaan.
Menurut penuturan Bacon, sang ibu bercerita bahwa ayahnya—seorang pengacara kriminal yang dikenal tegar—menangis untuk pertama dan satu-satunya kali dalam hidupnya. Peristiwa itu terjadi pada Senin pagi, sehari setelah berita pemecatan Bacon tersiar. Sang ayah, yang harus berangkat ke pengadilan, masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran air untuk menyembunyikan isak tangisnya dari sang istri. "Saat ibu menceritakan itu, saya merasa malu yang amat sangat," ujar Bacon.
Bacon menduga bahwa skandal tersebut dipicu oleh seorang teman dekatnya yang iri dengan kesuksesannya. Ia mengaku pernah menggunakan kokain bersama teman tersebut, dan pada satu kesempatan ia menghabiskan seluruh dosis yang dibeli temannya tanpa memahami akibatnya. "Saya pikir dia cemburu," kata Bacon, yang kemudian menyamakan masa jabatannya di Blue Peter—20 bulan—dengan masa jabatan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Setelah dipecat, Bacon diharuskan mengembalikan lencana Blue Peter—simbol prestasi yang sangat dihormati di Inggris. Namun, dua dekade kemudian, pada perayaan 60 tahun Blue Peter, presenter legendaris Peter Purves secara pribadi menyematkan lencana itu kembali di depan para mantan presenter lainnya. "Semua telah dimaafkan," kata Purves, disambut tepuk tangan hadirin. Momen itu menjadi titik balik rekonsiliasi bagi Bacon.
Meski sempat terpuruk, Bacon berhasil bangkit. Ia kemudian membawakan acara The Big Breakfast dan Top of the Pops, serta menjadi presenter radio dan pembawa acara tamu di Good Morning Britain. Kisahnya menjadi pengingat bahwa kesalahan masa lalu tidak harus menjadi akhir dari segalanya, meskipun luka yang ditinggalkan—terutama pada orang-orang terdekat—mungkin tak pernah benar-benar hilang.
Bagi publik Indonesia, skandal serupa kerap menjadi pelajaran tentang tekanan hidup di industri hiburan. Kasus Bacon menunjukkan bahwa di balik gemerlap layar kaca, ada harga mahal yang harus dibayar, termasuk kepercayaan keluarga. Pertanyaan yang tersisa: sejauh mana industri hiburan global—termasuk di Indonesia—memberikan ruang pemulihan bagi para talentanya yang tersandung masalah pribadi?



