Bekantan Bukan Sekadar Primata Berhidung Besar: Ilmuwan Buktikan Kemampuan Memamah Biak
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengonfirmasi bahwa bekantan (Nasalis larvatus) melakukan regurgitasi dan mengunyah ulang makanan, sebuah perilaku yang sebelumnya dianggap eksklusif pada hewan berkaki empat seperti sapi.
- Temuan ini mengoreksi asumsi bahwa primata diurnal hanya tidur pasif di malam hari; bekantan justru lebih banyak terjaga dan beristirahat, namun frekuensi memamah biaknya tidak meningkat.
- Di balik sains, masyarakat adat Kalimantan telah lama menjaga habitat bekantan melalui kearifan lokal, seperti larangan menebang pohon di sempadan sungai, yang kini terbukti vital bagi konservasi spesies genting ini.

Bekantan, primata endemik Kalimantan dengan hidung besar dan perut buncit, ternyata memiliki kemampuan memamah biak—sebuah strategi pencernaan yang selama ini dianggap milik sapi, kambing, atau unta. Temuan ini tidak hanya mengubah pemahaman tentang fisiologi primata, tetapi juga membuka mata akan pentingnya menjaga habitat hutan riparian yang selama ini dijaga oleh kearifan lokal masyarakat pesisir.
Tim peneliti yang dipimpin Ikki Matsuda dari Universitas Kyoto pertama kali mengungkap perilaku ini pada 2011 melalui analisis rekaman video sejak tahun 2000. Dari pengamatan tersebut, sekitar 23 ekor bekantan terlihat mengeluarkan makanan dari perut dan mengunyahnya kembali—sebuah proses yang dikenal sebagai regurgitasi. Temuan ini kemudian diperkuat studi lanjutan yang dipublikasikan di Journal of Zoology pada 2023, di mana Jonas Bösch dan kolega menganalisis lebih dari 251 jam rekaman inframerah terhadap 179 individu bekantan liar di Sabah, Malaysia.
Hasil studi terbaru menunjukkan bahwa bekantan tidak lebih sering memamah biak di malam hari dibandingkan siang hari, mengoreksi anggapan bahwa primata diurnal hanya tidur pasif setelah gelap. “Bekantan menghabiskan lebih banyak waktu terjaga sambil beristirahat,” tulis para peneliti. Artinya, malam hari bagi bekantan lebih merupakan waktu “siaga” daripada tidur lelap, sebuah adaptasi yang mungkin terkait dengan kebutuhan mencerna serat kasar dari dedaunan mangrove.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi langsung. Bekantan adalah satwa endemik yang hanya ditemukan di Kalimantan, dan habitat utamanya—hutan mangrove serta riparian—terus terancam oleh alih fungsi lahan, pembalakan liar, dan perburuan. Namun, jauh sebelum jurnal ilmiah mencatat perilaku unik ini, masyarakat adat di pesisir Kalimantan telah lama menerapkan praktik konservasi. Di Sungai Hitam, Samboja, Kalimantan Timur, kelompok warga Sungai Hitam Lestari secara sukarela menjaga lahan selebar 20 meter di pinggir sungai untuk melindungi pohon rambai laut (Sonneratia caseolaris), sumber pakan utama bekantan. Inisiatif yang dimulai pada 2013 ini berhasil menahan laju alih fungsi lahan di sepanjang sempadan sungai.
Kisah serupa terjadi di Pulau Curiak, Kalimantan Selatan, di mana Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang didirikan Amalia Rezeki—atau akrab disapa Amel—telah menjaga hutan mangrove sejak 1994. “Berkat upaya penanaman dan pengawasan warga, populasi bekantan di Pulau Curiak melonjak dari hanya 14 individu pada 2016 menjadi 52 individu pada 2024,” ungkap Amel. Relawan yang sebagian besar perempuan ini rutin menanam pohon rambai, yang selain menjadi pakan bekantan juga berfungsi sebagai penahan abrasi pesisir dan penyerap karbon.
Pengetahuan ekologi tradisional ini selaras dengan sains modern. Bekantan sangat bergantung pada hutan tepi sungai, dan gangguan terhadap habitat riparian langsung mengancam kelangsungan hidup mereka. Dengan kata lain, ketika masyarakat menjaga larangan menebang pohon di bantaran sungai, mereka secara tidak sadar melindungi “laboratorium alami” tempat bekantan mempraktikkan strategi mengunyah dua kali yang unik itu.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana mengintegrasikan kearifan lokal ini ke dalam kebijakan konservasi formal. Populasi bekantan yang terus menyusut—diperkirakan turun 50-70% dalam tiga generasi—menuntut aksi nyata, tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari sektor swasta dan masyarakat. Apakah ekowisata berbasis masyarakat seperti di Sungai Hitam dan Pulau Curiak dapat menjadi model replikasi di seluruh Kalimantan, atau justru tekanan ekonomi akan menggerogoti habitat yang tersisa? Jawabannya akan menentukan nasib primata pemamah biak ini.



