Inflasi AS Melandai ke 3,5%, Rupiah Berpotensi Menguat Lebih Jauh
Baca dalam 60 detik
- Data inflasi AS Juni 2026 turun ke 3,5% year-on-year, meredakan tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga.
- Rupiah menguat ke Rp18.000 per dolar AS, didukung oleh koreksi harga minyak global dan ekspektasi pelonggaran moneter.
- Ketegangan Timur Tengah masih menjadi risiko utama yang dapat memicu kenaikan harga minyak dan membalikkan penguatan rupiah.

Data inflasi konsumen Amerika Serikat pada Juni 2026 menunjukkan perlambatan signifikan, memberikan angin segar bagi pasar keuangan global dan membuka peluang bagi rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk melanjutkan tren penguatan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan Consumer Price Index (CPI) tahunan turun menjadi 3,5% dari 4,2% pada bulan sebelumnya, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan inflasi masih bertahan di kisaran 3,8%.
Penurunan inflasi ini terjadi bersamaan dengan koreksi harga minyak mentah dunia, yang sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan akibat ketegangan geopolitik. Analis FX CNBC Indonesia, Elvan Chandra Widyatama, menilai kombinasi kedua faktor tersebut meredam ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (Fed). โPasar mulai mempertimbangkan bahwa The Fed mungkin tidak perlu agresif menaikkan suku bunga, setidaknya dalam jangka pendek,โ ujarnya dalam program Power Lunch, Kamis (15/7).
Meski demikian, Elvan mengingatkan bahwa risiko masih membayangi. Potensi eskalasi konflik di Timur Tengah dapat mendorong harga minyak kembali naik, yang pada gilirannya akan memicu tekanan inflasi baru dan mempersulit upaya The Fed mencapai target inflasi 2%. โJika harga minyak melonjak lagi, suku bunga AS bisa kembali menjadi momok bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,โ tambahnya.
Dari dalam negeri, rupiah menunjukkan performa positif dengan bergerak di level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu (15/7). Penguatan ini didukung oleh aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar obligasi dan saham Indonesia, seiring membaiknya sentimen risiko global. IHSG pun berpotensi menguat jika data inflasi AS yang melandai mendorong investor untuk beralih ke aset berisiko.
Namun, para pelaku pasar tetap mencermati sejumlah sentimen domestik, termasuk implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Regulasi ini diharapkan dapat memperkuat sektor keuangan sebagai motor penggerak ekonomi, tetapi efektivitasnya masih perlu diuji di tengah ketidakpastian global. CNBC Indonesia Investment Forum 2026 yang digelar pekan ini menjadi ajang diskusi mengenai peluang dan tantangan implementasi UU P2SK.
Ke depan, arah pergerakan rupiah dan IHSG akan sangat bergantung pada data inflasi AS berikutnya serta perkembangan harga minyak. Jika inflasi terus melandai dan ketegangan Timur Tengah mereda, bukan tidak mungkin rupiah menembus level Rp17.800 per dolar AS. Sebaliknya, jika harga minyak kembali meroket, tekanan terhadap rupiah bisa kembali terasa. Pertanyaannya, seberapa cepat The Fed benar-benar mengubah sikap hawkish-nya?



