Sri Lanka Garap Proyek Solar Atap Rp1,3 Triliun, Libatkan ADB dan UE
Baca dalam 60 detik
- Kabinet Sri Lanka menyetujui pendanaan senilai US$80,5 juta untuk proyek tenaga surya atap dan modernisasi jaringan listrik.
- Proyek ini memperkenalkan model agregasi solar dan virtual net metering yang memungkinkan UMKM dan komunitas menikmati energi surya tanpa memasang panel sendiri.
- Dukungan ADB, UE, dan Jepang diharapkan memperkuat ketahanan energi Sri Lanka sekaligus membuka peluang kerja di sektor hijau.

Pemerintah Sri Lanka resmi meluncurkan proyek energi surya atap senilai US$80,5 juta (sekitar Rp1,3 triliun) yang didanai oleh Asian Development Bank (ADB), Uni Eropa, dan Jepang. Proyek ini tidak hanya bertujuan memperluas kapasitas pembangkit listrik tenaga surya, tetapi juga memperkenalkan sistem virtual net metering yang memungkinkan konsumen tanpa panel surya tetap bisa menikmati listrik hijau.
Dalam rapat kabinet yang dipimpin Presiden Anura Kumara Dissanayake, Selasa (15/7), disetujui perjanjian pinjaman dan hibah yang mencakup pinjaman lunak ADB sebesar US$35 juta, hibah Uni Eropa senilai โฌ15,4 juta (US$16,9 juta), serta hibah US$5,5 juta dari Japan Fund for the Joint Crediting Mechanism. Sisanya akan ditanggung oleh lembaga pelaksana proyek.
Proyek bertajuk Rooftop Solar Aggregation and Virtual Net Metering ini akan dijalankan oleh dua perusahaan listrik milik negara, Electricity Distribution Lanka dan Lanka Electricity Company. Mereka akan membangun model yang menggabungkan listrik dari panel surya atap skala besar, lalu mendistribusikan kredit energi kepada konsumen yang memenuhi syarat. Dengan skema ini, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta organisasi komunitas yang tidak memiliki lahan atau dana untuk memasang panel surya tetap bisa memperoleh manfaat dari energi terbarukan.
Bagi Indonesia, langkah Sri Lanka ini bisa menjadi referensi dalam mengakselerasi adopsi energi surya atap, terutama di segmen UMKM. Indonesia sendiri tengah mengejar target bauran energi terbarukan 23% pada 2025, namun penetrasi panel surya atap masih terhambat oleh biaya awal yang tinggi dan keterbatasan lahan. Model virtual net metering seperti yang diterapkan Sri Lanka memungkinkan konsumen tetap mendapat pasokan listrik hijau tanpa harus mengeluarkan investasi besar.
Menurut Direktur ADB untuk Sri Lanka, Shannon Cowlin, proyek ini akan memperluas akses energi terbarukan yang terjangkau sekaligus memperkuat kesiapan jaringan listrik. "Proyek ini akan mendukung usaha kecil, memajukan modernisasi dan digitalisasi jaringan, serta menciptakan peluang baru bagi perempuan dan kaum muda di industri energi bersih," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Selain infrastruktur fisik, proyek ini juga mencakup pendirian pusat pelatihan untuk mengembangkan keterampilan di sektor hijau, meningkatkan partisipasi perempuan, dan membangun kapasitas teknis dalam teknologi rendah karbon. Langkah ini sejalan dengan tren global yang menuntut transisi energi yang inklusif dan berkeadilan.
Ke depan, keberhasilan Sri Lanka dalam mengimplementasikan model agregasi solar dan virtual net metering akan menjadi ujian bagi negara-negara berkembang lain yang ingin mempercepat transisi energi tanpa membebani anggaran negara. Apakah Indonesia akan mengadopsi skema serupa untuk mengejar target energi terbarukan?



