Barbara Palvin Buka Suara soal Kecemasan Berat Badan Selama Kehamilan
Baca dalam 60 detik
- Supermodel Victoria's Secret itu mengaku mengalami spiral kecemasan saat berat badannya naik drastis di trimester awal kehamilan.
- Tekanan industri mode yang selama dua dekade mengkritik tubuhnya membuat Barbara rentan terhadap perubahan fisik, meski sedang mengandung.
- Dukungan suami, Dylan Sprouse, menjadi penyelamat psikologis yang mengingatkannya bahwa tubuhnya sedang 'menciptakan kehidupan'.

Barbara Palvin, model Victoria's Secret yang tengah mengandung anak pertamanya, mengakui bahwa kenaikan berat badan selama kehamilan memicu kecemasan yang mendalam. Dalam podcast terbaru sang suami, Dylan Sprouse, ia menceritakan bagaimana angka di timbangan yang melonjak cepat membuatnya 'spiralling'—sebuah kondisi di mana pikiran negatif berputar tak terkendali.
“Bekas luka lama kembali muncul. Saya melihat lengan saya membesar, perut belum tampak jelas tapi celana sudah tak muat,” ujar Barbara, 32 tahun, dalam episode perdana Wildmen. Ia menekankan pentingnya pasangan yang suportif di masa sulit seperti ini. “Dylan selalu mengingatkan bahwa kami sedang menciptakan kehidupan.”
Kecemasan Barbara bukan tanpa akar. Ia memulai karier modeling di usia 13 tahun, dan sejak 17 tahun, agensi terus memintanya menurunkan berat badan. “Pinggul saya dianggap terlalu besar—padahal saat itu saya bahkan belum punya pinggul,” kenangnya. Dua dekade berada di bawah sorotan industri yang obsesif terhadap bentuk tubuh membuatnya memiliki 'luka batin' yang mudah tersentuh setiap kali tubuhnya berubah.
Ironisnya, ketika Barbara akhirnya mendapat pekerjaan di Victoria's Secret—pencapaian impian banyak model—ia justru dilabeli sebagai 'model plus-sized pertama' merek tersebut. “Saya pikir, akhirnya kerja keras terbayar. Tapi mereka memberi label yang tidak saya rasa cocok,” katanya. Meski tidak tersinggung dengan istilah itu, ia mengaku telah 'menyiksa diri' untuk memenuhi standar tubuh konvensional.
Kritik tidak berhenti di situ. Saat Barbara berhasil menurunkan berat badan dan mengunggah foto di media sosial, komentar berubah menjadi, “Kenapa dia begitu kurus?” Ia menyadari bahwa sebagai figur publik, tubuhnya dianggap milik publik. “Tapi saya tidak pernah merasa perlu mengomentari tubuh orang lain. Jika tidak ada hal baik untuk dikatakan, saya diam saja,” tegasnya.
Kisah Barbara mencerminkan dilema yang juga dialami banyak perempuan Indonesia, terutama mereka yang berkarier di industri kreatif dan hiburan. Tekanan untuk tampil sempurna—baik saat hamil maupun tidak—seringkali mengabaikan realitas biologis dan psikologis. Di tengah gencarnya kampanye body positivity, pengakuan Barbara menjadi pengingat bahwa perubahan fisik selama kehamilan adalah hal normal, dan dukungan orang terdekat adalah kunci utama menjaga kesehatan mental.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: mampukah industri mode dan hiburan—baik global maupun lokal—benar-benar mengubah standar kecantikan yang selama ini membelenggu? Ataukah pengakuan seperti Barbara hanya akan menjadi cerita heroik tanpa perubahan sistemik?



