Mantan Kepala Staf TNI AU Singapura Ng Chee Khern Pimpin Otoritas Penerbangan Sipil
Baca dalam 60 detik
- Ng Chee Khern, mantan Kepala Staf TNI AU Singapura, akan menjadi ketua CAAS mulai 1 Agustus 2026, menggantikan Edmund Cheng yang telah menjabat sejak 2018.
- Cheng meninggalkan warisan berupa pemulihan sektor penerbangan pascapandemi, dengan rekor 70 juta pergerakan penumpang pada 2025 dan komitmen investasi S$1 miliar.
- Kepemimpinan Ng diharapkan memperkuat posisi Singapura sebagai hub penerbangan global, dengan latar belakangnya di bidang pertahanan, kesehatan, dan pemerintahan digital.

Singapura kembali melakukan rotasi kepemimpinan di sektor strategisnya. Mulai 1 Agustus mendatang, Ng Chee Khern, mantan Kepala Staf Angkatan Udara Republik Singapura, resmi menjabat sebagai Ketua Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS). Ia menggantikan Edmund Cheng yang telah memimpin badan tersebut sejak 2018, termasuk melalui masa kritis pandemi Covid-19.
Keputusan ini diumumkan oleh Kementerian Perhubungan Singapura (MOT) pada Rabu (15/7). Dalam pernyataannya, MOT menyebut pengalaman kepemimpinan Ng yang luasโia juga menjabat sebagai wakil ketua CAAS sejak Januari laluโakan menjadi aset besar bagi otoritas dalam memperkuat posisi Singapura sebagai pusat penerbangan global. Ng memulai kariernya sebagai pilot di Angkatan Udara pada 1984 dan meraih penghargaan Public Administration Medal (Gold) pada 2016.
Selain di militer, Ng pernah menduduki posisi penting di Kementerian Kesehatan serta Smart Nation and Digital Government Group di bawah Kantor Perdana Menteri. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur dan CEO ISEAS โ Yusof Ishak Institute, sebuah lembaga riset terkemuka di Asia Tenggara. Kombinasi pengalaman di bidang pertahanan, kesehatan, dan transformasi digital diyakini memberinya perspektif unik dalam mengelola sektor penerbangan yang semakin kompleks.
Edmund Cheng meninggalkan warisan yang solid. Di bawah kepemimpinannya, CAAS tidak hanya berhasil membawa sektor penerbangan Singapura keluar dari keterpurukan pandemi, tetapi juga mencatat rekor baru: hampir 70 juta pergerakan penumpang dan lebih dari dua juta ton kargo udara pada 2025. Otoritas juga mengumumkan komitmen dana sebesar S$1 miliar (sekitar US$780 juta) untuk mendukung inisiatif di bidang konektivitas, teknologi, infrastruktur, dan ketenagakerjaan. Selain itu, CAAS meluncurkan Peta Transformasi Industri Transportasi Udara pada 2023 dan Cetak Biru Hub Udara Berkelanjutan Singapura pada 2024, yang menekankan keberlanjutan dan adopsi teknologi.
Bagi Indonesia, pergantian kepemimpinan di CAAS patut dicermati. Singapura merupakan salah satu hub penerbangan tersibuk di Asia Tenggara dan menjadi pesaing utama bagi bandara-bandara di Indonesia, seperti Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional Yogyakarta. Langkah Singapura dalam mengembangkan Terminal 5 Changi dan kawasan industri di sekitarnya menunjukkan ambisi mereka untuk tetap unggul dalam persaingan regional. Di sisi lain, Indonesia juga tengah gencar membangun infrastruktur penerbangan, termasuk bandara baru di Bali dan Lombok. Kebijakan CAAS ke depan, terutama di bawah kepemimpinan Ng, akan memengaruhi dinamika persaingan dan kerja sama di kawasan.
MOT dan CAAS menyampaikan apresiasi mendalam kepada Cheng atas kontribusinya yang dinilai "sangat berharga" bagi otoritas dan sektor penerbangan Singapura. Dengan latar belakang Ng yang kuat di bidang pertahanan dan birokrasi, pertanyaan besarnya adalah: akankah ia membawa pendekatan baru yang lebih agresif dalam memperluas pengaruh Singapura sebagai hub penerbangan global, atau justru lebih fokus pada konsolidasi dan keberlanjutan? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan.



