Nasib Beda Dua Striker Muda Inggris: Will Keane dan Harry Kane, Cedera yang Mengubah Segalanya
Baca dalam 60 detik
- Will Keane, yang sempat dianggap lebih menjanjikan daripada Harry Kane di level junior, harus menepi 16 bulan akibat cedera lutut parah pada 2012.
- Sementara Kane bersiap menghadapi Argentina di semifinal Piala Dunia, Keane mengikuti kamp pemulihan PFA untuk pemain tanpa kontrak.
- Keane mengakui faktor mental dan keberuntungan menjadi pembeda; ia baru menemukan pendekatan psikologis yang tepat setelah bertahun-tahun bergulat dengan cedera.

Dua striker muda Inggris yang sama-sama bersinar di tim U-19 pada 2012 kini berada di jalur karier yang bertolak belakang: Harry Kane bersiap untuk semifinal Piala Dunia melawan Argentina, sementara Will Keane, yang kala itu dianggap lebih prospektif, justru berjuang mencari klub baru setelah kontraknya habis.
Pada Mei 2012, dalam laga kualifikasi Kejuaraan Eropa U-19 melawan Swiss, Will Keane tampil gemilang dan mencetak dua gol. Banyak pihak meyakini dialah yang akan menjadi ujung tombak masa depan Inggris, bukan Kane. Namun, lima hari kemudian, cedera lutut parah menghantam Keane dan membuatnya absen selama 16 bulan. Momen itulah yang oleh banyak pengamat disebut sebagai titik balik yang menentukan nasib keduanya.
"Saya belum pernah mengalami kemunduran berarti hingga saat itu," ujar Keane dalam wawancara dengan BBC Sport. "Saya masih muda, tanpa rasa takut. Karier saya sedang menanjak: debut senior di Manchester United, memenangi Piala Remaja, dan tampil apik untuk Inggris. Semuanya berjalan mulus." Namun, cedera itu mengubah segalanya. Dalam waktu yang sama, Kane menjalani masa pinjaman di Norwich dan Leicester, lalu menembus tim utama Tottenham Hotspur.
Keane mengakui bahwa faktor waktu menjadi penentu. "Cedera pertama terjadi di saat krusial. Saya sudah punya satu kaki di pintu tim utama. Jika cedera itu terjadi dua tahun kemudian, mungkin saya sudah menjadi pemain skuad inti. Tapi kenyataannya, saya kehilangan 16 bulan pada masa transisi dari tim cadangan ke senior."
Saat ini, di usia 33 tahun, Keane tengah mengikuti kamp pramusim selama 12 pekan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA) di Champneys Springs, Leicestershire. Program yang memasuki tahun ketiga ini dirancang untuk memberikan lingkungan kompetitif bagi pemain tanpa kontrak agar tetap bugar dan terlihat oleh klub-klub potensial. Keane adalah satu dari 45 pemain yang ambil bagian. "Ada beberapa obrolan dengan klub. Saya yakin mereka tahu saya. Mungkin mereka punya target A, B, C, tapi begitu musim dimulai dan ada klub yang start-nya buruk, kepanikan bisa membuka peluang," katanya optimistis.
Perjalanan karier Keane tidak hanya diwarnai cedera fisik, tetapi juga pergulatan mental. Ia mengaku baru menemukan pendekatan psikologis yang tepat saat bergabung dengan Wigan Athletic. "Saya pernah bekerja dengan psikolog olahraga, tapi yang di Wigan berbedaโia lebih spiritual. Kami fokus pada niat positif, visualisasi, dan manifestasi. Saya sudah mencoba segala cara konvensional, tapi tetap cedera. Saya butuh sesuatu yang lain," ungkap Keane. Ia menyesali tidak memiliki pendekatan itu sejak muda. "Jika sejak awal saya fokus pada mental, mungkin hasilnya akan berbeda. Bahkan, mungkin cedera-cedera itu tidak akan terjadi."
Keane juga memberikan pandangannya tentang Harry Kane, mantan rekan setimnya di tim muda Inggris. "Sejak muda, orang bilang Kane tidak lincah, tapi secara teknis ia luar biasa. Waktu yang ia habiskan untuk latihan finishing dan obsesinya menjadi yang terbaik, Anda bisa melihat hasilnya. Ia sangat percaya diri karena kerja kerasnya. Itulah yang membedakan pemain top: bukan arogansi, melainkan keyakinan yang kokoh," puji Keane.
Kisah Will Keane dan Harry Kane menjadi pengingat betapa tipisnya garis antara sukses dan kegagalan di sepak bola profesional. Cedera, keberuntungan, dan kesiapan mental bisa mengubah arah karier secara drastis. Bagi Keane, meski jalannya berbeda, ia masih percaya ada babak baru yang menanti. "Saya masih punya beberapa tahun ke depan. Saya belum menyerah untuk menambah caps bersama Republik Irlandia," tutupnya.



