Dosen NTU Peringatkan Dampak AI pada Cara Mahasiswa Menulis: Kehilangan Esensi Berpikir Kritis
Baca dalam 60 detik
- Penggunaan AI generatif membuat tulisan mahasiswa tampak rapi namun kehilangan orisinalitas dan kedalaman pemikiran.
- Dosen di Singapura khawatir mahasiswa mulai menganggap akses ke jawaban yang diformat rapi setara dengan pengetahuan sejati.
- Perguruan tinggi di Indonesia perlu mengantisipasi tantangan serupa dengan memperkuat metode evaluasi yang menguji pemahaman, bukan sekadar hasil akhir.

Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) generatif, dunia pendidikan tinggi menghadapi persoalan baru: mahasiswa semakin mahir menghasilkan tulisan yang tampak sempurna, tetapi miskin substansi pemikiran orisinal. Fenomena ini diungkapkan oleh Kennedy Albar, dosen paruh waktu komunikasi dan etika di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, dalam sebuah artikel opini yang menyoroti perubahan pola menulis mahasiswa dalam beberapa semester terakhir.
Menurut Albar, dulu tulisan mahasiswa memiliki ciri khas—ada yang langsung, ada yang berbasa-basi, bahkan penulis lemah pun memiliki kebiasaan yang bisa dikenali. Namun kini, ia kerap membaca esai yang terasa mulus tetapi seragam: pendahuluan seimbang, tiga poin terstruktur, bantahan, lalu kesimpulan yang terdengar bijak namun kosong. Frasa yang sama muncul berulang meskipun topiknya berbeda. Penyebabnya, tanpa disangka, adalah AI generatif.
Albar menekankan bahwa masalah ini belum meluas, tetapi cukup mengkhawatirkan. Apalagi Singapura baru saja mengumumkan bahwa mulai 2027, seluruh mahasiswa di institusi pendidikan tinggi akan dibekali keterampilan AI sesuai bidang studi masing-masing. Kekhawatiran utamanya: ketika mahasiswa mulai percaya bahwa memiliki akses ke jawaban yang dirangkai rapi sama dengan memiliki pengetahuan sejati, maka pendidikan kehilangan esensinya.
Fenomena serupa berpotensi terjadi di Indonesia, di mana penggunaan AI di kalangan mahasiswa juga meningkat. Banyak perguruan tinggi belum memiliki kebijakan eksplisit tentang penggunaan AI dalam tugas akademik. Jika tidak diantisipasi, risiko yang sama mengintai: mahasiswa mungkin menjadi terampil menghasilkan output rapi, tetapi kehilangan kemampuan berpikir kritis dan argumentasi mandiri. Padahal, dunia kerja justru membutuhkan lulusan yang mampu mengambil keputusan, mempertahankan ide, dan mengambil risiko intelektual.
Albar mengingatkan bahwa menulis bukanlah produk akhir, melainkan proses belajar. Melalui menulis, mahasiswa belajar mengamati, mengorganisasi kompleksitas, menimbang gagasan yang bersaing, dan mengembangkan penilaian. Ia menekankan pentingnya “perjuangan produktif” (productive struggle)—ketidaknyamanan berpikir tanpa bantuan instan—yang justru menjadi awal pembelajaran sejati. AI, jika digunakan secara berlebihan, dapat menutupi celah-celah pemikiran yang seharusnya terlihat.
Dari sisi etika, Albar menilai penggunaan AI tidak otomatis tidak etis. Persoalan muncul ketika mahasiswa menyajikan argumen atau ide seolah-olah milik mereka sendiri tanpa benar-benar memahaminya. Pendidikan pada dasarnya dibangun di atas tanggung jawab intelektual: bukan sekadar menghasilkan jawaban, tetapi memiliki proses bagaimana jawaban itu diperoleh.
Alih-alih melarang AI atau menciptakan tugas yang “anti-AI”, Albar justru mendorong penguatan praktik tradisional seperti menulis di kelas dan presentasi lisan. Dalam pengajarannya, ia mulai lebih menekankan metode yang membuat proses berpikir menjadi terlihat. “Saya lebih suka membaca tulisan yang tidak sempurna tetapi benar-benar penuh pemikiran,” tulisnya.
Ke depan, perguruan tinggi di Indonesia perlu merumuskan pendekatan serupa: mengintegrasikan AI sebagai alat bantu, namun tetap mengutamakan pengembangan kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas. Pertanyaan yang harus dijawab: bagaimana memastikan mahasiswa tidak hanya pandai menggunakan AI, tetapi juga mampu mempertahankan argumen mereka tanpa bantuan mesin?



