Wabah Dengue di Sri Lanka: Menteri Desak Orangtua Lindungi Anak Usia Prasekolah
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Sri Lanka mengimbau orangtua mengenakan pakaian tertutup pada anak prasekolah guna mencegah gigitan nyamuk dengue.
- Langkah ini menyusul kebijakan seragam sekolah yang sudah direlaksasi, seiring lonjakan kasus dengue mencapai 68.672 dengan 47 kematian hingga pertengahan Juli 2026.
- Peringatan dua pekan kritis ke depan mengindikasikan potensi tekanan tambahan pada sistem kesehatan, relevan bagi Indonesia yang juga menghadapi siklus dengue tahunan.

Pemerintah Sri Lanka meminta orangtua untuk membiasakan anak usia prasekolah mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang guna meminimalkan risiko gigitan nyamuk Aedes aegypti, di tengah lonjakan kasus demam berdarah dengue yang telah menewaskan puluhan orang tahun ini.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Saroja Savithri Paulraj, menyampaikan imbauan tersebut dalam konferensi pers di Departemen Informasi Publik, Senin (15/7), bertepatan dengan Pekan Nasional Anak Usia Dini. Ia menekankan bahwa perlindungan fisik merupakan lapisan pertama pertahanan yang murah dan efektif, terutama bagi anak-anak yang rentan terhadap komplikasi dengue.
Langkah ini mengikuti keputusan Kementerian Pendidikan Sri Lanka yang sebelumnya mengizinkan siswa sekolah dasar dan menengah mengenakan pakaian yang menutupi lengan dan kaki sebagai bentuk kewaspadaan. Paulraj mendesak agar kebijakan serupa diterapkan secara konsisten di jenjang prasekolah, mengingat anak-anak di bawah lima tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami dengue berat.
Selain pakaian pelindung, Paulraj juga mendorong orangtua menggunakan losion antinyamuk yang aman bagi anak dan menjalankan langkah pencegahan lain, seperti membersihkan tempat penampungan air dan memasang kelambu. Ia memperingatkan bahwa dua pekan mendatang akan menjadi fase kritis, menandakan puncak siklus penularan yang kerap terjadi pada musim hujan di negara tropis.
Bagi Indonesia, situasi di Sri Lanka menjadi pengingat akan kerentanan serupa. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa kasus dengue di Indonesia masih fluktuatif, dengan lonjakan signifikan pada awal tahun 2026 di beberapa provinsi. Kebijakan seperti pengaturan seragam sekolah yang adaptif terhadap risiko kesehatan bisa menjadi bahan evaluasi bagi otoritas pendidikan dan kesehatan di Tanah Air, terutama di daerah endemis.
Menurut analis kesehatan masyarakat, pendekatan Sri Lanka yang mengombinasikan imbauan individu dan kebijakan institusi menunjukkan bahwa pengendalian dengue tidak bisa hanya mengandalkan fogging atau vaksinasi. Perubahan perilaku, termasuk cara berpakaian dan kebersihan lingkungan, tetap menjadi pilar utama. Namun, efektivitas jangka panjang dari imbauan ini masih perlu diukur, terutama dalam hal kepatuhan orangtua dan ketersediaan pakaian yang sesuai di kalangan ekonomi lemah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah langkah serupa akan diadopsi oleh negara-negara tetangga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang tengah menghadapi tantangan serupa. Dengan mobilitas penduduk yang tinggi dan perubahan iklim yang memperpanjang musim penularan, strategi pencegahan dengue yang inovatif dan terjangkau menjadi semakin mendesak.



