Piala Dunia 2026: Prancis Rotasi Besar, Spanyol Pertahankan Skuad di Semifinal
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Didier Deschamps memasukkan Bradley Barcola dan Aurelien Tchouameni ke susunan starter Prancis untuk semifinal melawan Spanyol.
- Spanyol tidak melakukan perubahan pada tim yang menang di perempat final, dengan Rodri tetap menjadi motor lini tengah.
- Pemenang laga ini akan berhadapan dengan Argentina atau Inggris di partai puncak Piala Dunia 2026.

Pertarungan menuju final Piala Dunia 2026 kian memanas. Prancis dan Spanyol saling berhadapan di semifinal, Selasa (14/7) waktu setempat, dengan kedua tim menerapkan strategi berbeda. Pelatih Les Bleus, Didier Deschamps, melakukan dua perubahan penting, sementara La Roja tetap mempertahankan formula yang sudah terbukti.
Bradley Barcola kembali dipercaya mengisi lini depan Prancis setelah sebelumnya menjadi pemain pengganti. Pemain Paris Saint-Germain itu akan beroperasi bersama Ousmane Dembele, Michael Olise, dan kapten Kylian Mbappe. Keputusan ini mengorbankan Desire Doue yang harus rela duduk di bangku cadangan. Di lini tengah, Aurelien Tchouameni yang pulih dari cedera langsung dimainkan sejak menit awal, berduet dengan Adrien Rabiot. Kehadiran Tchouameni memberi keseimbangan ekstra bagi pertahanan Prancis yang selama ini dianggap rentan.
Di kubu Spanyol, pelatih Luis de la Fuente memilih tidak mengubah susunan pemain yang sukses melaju ke semifinal. Rodri tetap menjadi jangkar lini tengah bersama Fabian Ruiz dan Dani Olmo. Sementara itu, Pedri, yang tampil impresif sebagai pemain pengganti di laga sebelumnya, kembali harus memulai dari bangku cadangan. Di lini depan, trio Lamine Yamal, Alex Baena, dan Mikel Oyarzabal dipercaya untuk membongkar pertahanan lawan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik karena menampilkan dua gaya bermain yang kontras. Prancis mengandalkan kecepatan dan kreativitas individu, sementara Spanyol lebih mengutamakan penguasaan bola dan disiplin taktik. Kedua tim sama-sama memiliki pemain yang sudah malang melintang di liga-liga Eropa, sehingga kualitas pertandingan diprediksi akan sangat tinggi.
Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi para pemain muda. Lamine Yamal, yang baru berusia 18 tahun, menjadi sorotan setelah penampilannya yang gemilang di turnamen ini. Sementara itu, Michael Olise dan Bradley Barcola juga ingin menunjukkan bahwa mereka layak menjadi bagian dari generasi emas Prancis. Menurut analis sepak bola, kunci kemenangan ada pada kemampuan lini tengah dalam mengontrol tempo permainan.
Dengan tiket final yang menjadi taruhan, tekanan mental menjadi faktor krusial. Prancis yang tampil sebagai juara bertahan tentu ingin mengulang sukses edisi sebelumnya. Namun, Spanyol yang tampil konsisten sepanjang turnamen tidak akan menyerah begitu saja. Pertanyaan besarnya: akankah perubahan taktik Deschamps membuahkan hasil, atau justru menjadi bumerang?



