Pogacar Pesta di Hari Bastille: Solo Attack yang Menggetarkan Tour de France
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar melesat sendirian di etape 10 Tour de France, memperlebar jarak dengan Jonas Vingegaard menjadi 3 menit 36 detik.
- Serangan brutal di tanjakan Col de Pertus menunjukkan dominasi mutlak pembalap Slovenia itu di pegunungan.
- Kemenangan ini memperkuat posisi Pogacar sebagai kandidat kuat juara, meski mendapat cemoohan dari sebagian penonton.

Empat kali juara Tour de France, Tadej Pogacar, kembali menunjukkan kelasnya dengan melancarkan serangan solo yang mematikan pada etape 10, Selasa (14/7). Pembalap asal Slovenia itu finis 32 detik di depan Remco Evenepoel dan memperlebar keunggulan klasemen atas Jonas Vingegaard menjadi 3 menit 36 detik. Aksi brilian ini terjadi tepat di Hari Bastille, momen nasional Prancis, membuat kemenangannya semakin bermakna.
Etape sepanjang 166,6 km dari Aurillac ke Le Lioran menyajikan medan pegunungan berat dengan dua tanjakan kategori satu di akhir. Setelah beberapa etape datar yang didominasi sprinter, para kontestan klasemen umum kembali unjuk gigi. Pogacar, yang mengenakan jersey kuning, memilih waktu yang tepat untuk menyerang: satu kilometer menjelang puncak Col de Pertus. Ia melesat melewati Richard Carapaz yang memimpin sendirian dan tak terkejar hingga garis finis.
Vingegaard, juara dua kali Tour, berusaha mengejar bersama kelompok yang berisi Paul Seixas dan Juan Ayuso, tetapi tak mampu mendekati Pogacar. โHari ini luar biasaโฆ kami sudah menargetkan etape ini sejak lama,โ ujar Pogacar seusai balapan. โKaki saya hancur di akhir. Saya tidak tahu akan menang sampai kilometer terakhir. Saya ingat ini Hari Bastille, dan ingin menghormati jersey kuning.โ
Dominasi Pogacar menuai reaksi beragam dari penonton. Sebagian bersorak, sebagian lainnya mencemooh karena keunggulannya yang terlalu telak. Menanggapi hal itu, Pogacar berfilosofi: โMereka yang mencemooh justru memberi kami lebih banyak kekuatan.โ
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, aksi Pogacar menjadi tontonan kelas dunia yang langka. Meski tak ada pembalap Asia di barisan depan, strategi agresif dan kemampuan membaca medan ala Pogacar bisa menjadi pelajaran berharga bagi atlet Tanah Air yang bermimpi menembus level tertinggi. Tour de France juga kerap menjadi inspirasi bagi komunitas sepeda di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta yang mulai menjamur.
Etape 11 akan berlangsung Rabu dengan rute datar sepanjang 161,3 km dari Vichy ke Nevers. Ini menjadi kesempatan bagi para sprinter untuk unjuk gigi, sekaligus ujian konsistensi bagi Pogacar dalam mempertahankan jersey kuning. Akankah ia terus mendominasi atau justru ada kejutan dari Vingegaard? Pertarungan masih panjang menuju Paris.



