The Open 2025: McIlroy dan Scheffler Siap Tempur di Birkdale yang Berubah Wajah
Baca dalam 60 detik
- Royal Birkdale akan menggelar The Open dengan kondisi lapangan kering dan keras akibat cuaca panas, berbeda drastis dengan edisi-edisi sebelumnya yang identik dengan angin dan hujan.
- Rory McIlroy dan Scottie Scheffler, yang telah memenangi empat dari tujuh major terakhir, sama-sama mengadopsi pendekatan agresif dan optimistis menghadapi tantangan unik lapangan yang telah direnovasi.
- Di luar persiapan teknis, kedua bintang golf dunia itu melontarkan pernyataan kontemplatif tentang warisan dan makna kemenangan, menolak obsesi pada rekor dan lebih menghargai perjalanan.

The Open Championship 2025 di Royal Birkdale hadir dengan wajah yang sama sekali berbeda. Alih-alih angin kencang dan guyuran hujan yang menjadi ciri khas edisi-edisi sebelumnya, lapangan di Southport, Inggris, kini kering dan membara di bawah terik matahari. Kondisi ini memaksa para pemain top dunia, termasuk juara bertahan Scottie Scheffler dan Rory McIlroy, untuk mengubah strategi secara fundamental.
McIlroy, yang pernah menjuarai The Open pada 2014, mengakui bahwa Birkdale yang ia lihat pekan ini sangat kontras dengan saat ia berlatih beberapa minggu lalu. "Rumputnya tidak lagi hijau, rough-nya tidak terlalu lebat karena terbakar sinar matahari," ujarnya kepada BBC Sport. Alih-alih bermain defensif, ia justru melihat peluang untuk tampil lebih agresif. "Saya bisa bermain lebih menyerang, dan itu membuat saya bersemangat."
Scheffler, yang pekan lalu gagal lolos cut di Scottish Open, juga tak kalah optimistis. Ia menyebut kondisi ekstrem ini justru menuntut pemikiran ekstra di setiap pukulan. "Akan ada pantulan aneh, hal-hal aneh terjadi. Tapi itulah yang membuatnya menyenangkan," kata pemain nomor satu dunia itu. Keduanya sama-sama mengincar gelar major keempat mereka dalam dua tahun terakhir—sebuah dominasi yang jarang terjadi dalam sejarah golf.
Renovasi Birkdale pasca-kemenangan Jordan Spieth pada 2017 menjadi salah satu topik hangat. Scheffler secara blak-blakan menyebut bahwa hole-hole yang direnovasi tampak seperti berasal dari lapangan yang berbeda. "Kemiringan di green 14, 15, dan 16 sangat curam dan menantang. Sangat jelas mana hole yang baru," katanya dalam konferensi pers. Perubahan ini, menurut para analis, akan menguji kemampuan pemain dalam membaca kontur dan mengontrol bola—bukan sekadar memukul jauh.
Namun, yang paling menarik perhatian bukan hanya soal teknis. Dalam sesi wawancara jelang turnamen, McIlroy dan Scheffler justru memberikan pernyataan filosofis tentang warisan (legacy). Scheffler, yang tahun lalu sempat membuat heboh dengan pidato tentang mengejar kehebatan, kembali menegaskan bahwa ia tidak peduli bagaimana ia akan dikenang. "Sejarah tidak begitu penting bagi saya. Saya lebih ingin dikenang karena cara saya bermain, bukan jumlah trofi," ujarnya. McIlroy pun senada: "Saya tidak peduli. Orang-orang yang mencintai saya mungkin akan mengingat saya dengan cara tertentu, tapi saya sudah tiada. Mengejar rekor dan hasil adalah tujuan yang hampa."
Pernyataan kedua bintang ini memicu diskusi di kalangan penggemar golf Indonesia. Di tengah maraknya turnamen amatir dan profesional di Tanah Air, sikap mereka mengingatkan bahwa esensi olahraga bukanlah sekadar angka di papan skor. Bagi pegolf Indonesia yang mulai melirik kancah internasional, The Open tahun ini bisa menjadi pelajaran berharga: bahwa adaptasi terhadap kondisi lapangan—dan ketenangan batin—sama pentingnya dengan kekuatan pukulan.
Dengan kondisi lapangan yang kering dan angin yang diprediksi berubah arah sepanjang turnamen, The Open 2025 menjanjikan kejutan. Mampukah McIlroy menambah koleksi major-nya menjadi tujuh? Atau Scheffler akan mempertahankan mahkota? Atau justru pemain lain yang memanfaatkan kondisi unik Birkdale? Satu hal pasti: siapa pun yang menang, ia harus menaklukkan bukan hanya lawan, melainkan juga lapangan yang haus dan bercerita.



