Pelatih Baru Bayer Leverkusen, Carles Martínez, Langsung Pasang Target Tinggi di Awal Pramusim
Baca dalam 60 detik
- Carles Martínez resmi memulai pramusim sebagai pelatih kepala Bayer Leverkusen, menggantikan Kasper Hjulmand.
- Ia menekankan gaya bermain intens, penuh gairah, dan presisi sejak hari pertama latihan.
- Leverkusen akan menghadapi laga perdana Bundesliga melawan Elversberg setelah menjalani uji coba dan DFB Pokal.

Carles Martínez, pelatih anyar Bayer Leverkusen, langsung memberikan sinyal ambisius saat memulai sesi latihan perdana pramusim, Selasa (14/7). Pelatih berusia 42 tahun itu menegaskan bahwa timnya harus tampil dengan intensitas tinggi, penuh semangat, dan presisi sejak awal. "Kami ingin bermain dengan intensitas, gairah, dan presisi sejak hari pertama. Itu harus kami internalisasi agar bisa diakses kapan pun," ujarnya dalam sesi jumpa pers.
Martínez ditunjuk sebagai suksesor Kasper Hjulmand pada bulan lalu. Ia mewarisi tim yang finis di peringkat keenam Bundesliga musim 2025/26 — sebuah posisi yang jelas di bawah ekspektasi klub sekelas Leverkusen. Oleh karena itu, tekanan untuk segera membangun kembali identitas permainan sudah terasa sejak awal. Martínez, yang dikenal dengan pendekatan komunikasi yang ekspresif, mengakui bahwa dirinya adalah pribadi yang sangat bergairah. "Saya orang yang penuh semangat, dan begitulah cara saya berkomunikasi dengan tim," tambahnya.
Winger Nathan Tella memberikan kesan positif terhadap pelatih barunya. Menurutnya, Martínez sangat komunikatif dan jelas dalam menyampaikan instruksi. "Dia bisa memberi tahu kami dengan tepat apa yang dia harapkan di lapangan. Itulah yang kami butuhkan sebagai tim muda. Saya sudah merasakan hubungan yang baik," ujar Tella. Pernyataan ini menandakan bahwa pendekatan personal Martínez mungkin menjadi kunci untuk membangkitkan performa skuad yang relatif muda.
Bagi pengamat sepak bola Jerman, tantangan Martínez bukan hanya soal taktik, tetapi juga mentalitas. Leverkusen dikenal sebagai klub yang kerap kehilangan pemain bintangnya setiap musim. Musim panas ini, mereka harus mempertahankan inti tim sambil beradaptasi dengan filosofi baru. Jika Martínez mampu menanamkan disiplin dan semangat juang seperti yang ia canangkan, bukan tidak mungkin Leverkusen bisa kembali bersaing di papan atas.
Dari perspektif Indonesia, perkembangan ini menarik untuk diikuti, terutama bagi penggemar Bundesliga yang jumlahnya terus bertambah. Gaya bermain agresif ala Martínez bisa menjadi tontonan menghibur, sekaligus memberikan pelajaran tentang pentingnya transisi kepelatihan di klub besar. Apakah Leverkusen akan menjadi kejutan musim depan atau justru kembali terpuruk? Jawabannya baru akan terlihat setelah laga perdana mereka melawan Elversberg pada akhir Agustus mendatang.



