Pogacar Kokoh di Puncak Tour de France Usai Sapu Bersih Stage 10
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar memenangi stage 10 Tour de France 2025 dengan keunggulan 32 detik, memperlebar jarak dari Jonas Vingegaard menjadi 3 menit 36 detik di klasemen umum.
- Serangan solo Pogacar 15 km sebelum finis di rute pegunungan Bastille Day mengukuhkan dominasinya, sekaligus menjadi kemenangan stage ke-24 sepanjang kariernya.
- Persaingan menuju Paris semakin berat bagi Vingegaard yang mengaku kakinya mulai membaik, sementara Evenepoel dan pembalap muda Seixas menjadi ancaman baru di papan atas.

Tadej Pogacar kembali menunjukkan taringnya di Tour de France 2025. Pembalap asal Slovenia itu memenangi stage 10 yang berlangsung pada Hari Bastille, Selasa (15/7), dengan solo attack 15 kilometer sebelum garis finis, memperlebar keunggulannya atas rival utama Jonas Vingegaard menjadi lebih dari tiga menit di klasemen umum.
Stage 10 sepanjang 166,6 km dari Aurillac ke Le Lioran menghadirkan medan pegunungan yang menantang. Sejak awal, publik Prancis berharap remaja Paul Seixas (19 tahun) mampu bersaing di depan. Namun, Pogacar yang sudah empat kali juara Tour de France mematahkan harapan tersebut. Ia melesat sendirian di tanjakan terakhir dan finis 32 detik di depan Remco Evenepoel, sementara Seixas finis ketiga. Vingegaard, yang sempat memimpin grup pengejar, harus puas di posisi ketujuh dengan selisih 44 detik dari Pogacar.
Kemenangan ini menjadi yang ketiga bagi Pogacar di edisi 2025 dan yang ke-24 sepanjang kariernya di Tour de France. Ia kini duduk di peringkat kelima daftar peraih stage terbanyak sepanjang masa, hanya terpaut satu kemenangan dari Andre Leducq. โKami sudah menargetkan stage ini sejak lama. Dua tahun lalu Jonas mengalahkan saya di sprint, hari ini situasinya mirip. Kaki saya benar-benar hancur sampai finis, tapi saya menikmati hari ini,โ ujar Pogacar seusai balapan.
Bagi Vingegaard, hasil ini memang tidak ideal, tetapi ia melihat sisi positif. โHari ini lumayan bagi kami, bisa saja lebih buruk. Kaki saya semakin membaik dan saya menantikan tanjakan yang lebih panjang,โ kata pembalap Visma-Lease a Bike itu. Sementara itu, Evenepoel sempat kehilangan kontak dengan grup depan di tanjakan, namun pulih di turunan pendek dan melesat ke posisi kedua. Pebalap muda Belgia itu menunjukkan mentalitas juara dengan bangkit dari keterpurukan.
Konteks Indonesia: Meski tidak ada pembalap Indonesia di Tour de France, ajang ini tetap relevan bagi penggemar olahraga sepeda di Tanah Air. Popularitas gowes yang melonjak sejak pandemi membuat banyak komunitas sepeda di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta mengikuti perkembangan Tour de France. Dominasi Pogacar yang nyaris tak tergoyahkan bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Indonesia yang bercita-cita menembus level Eropa. Persaingan antara Pogacar dan Vingegaard juga mengingatkan pada rivalitas klasik seperti Armstrong-Ullrich, yang kerap menjadi bahan diskusi di forum-forum pecinta sepeda lokal.
Ke depan, tantangan sesungguhnya masih menanti. Setelah hari istirahat, para pembalap akan menghadapi stage 11 yang lebih panjang dengan tanjakan ekstrem di Alpen. Vingegaard dikenal kuat di etape panjang, sementara Pogacar menunjukkan kecepatan eksplosif di tanjakan pendek. Akankah Vingegaard mampu memangkas selisih waktu di pegunungan tinggi? Atau Pogacar akan terus menjauh dan mengamankan gelar kelimanya? Jawabannya akan terungkap dalam pekan-pekan mendatang.



