Kontroversi Sponsor Aston Villa: Rwanda Dituding Cuci Reputasi di Tengah Konflik Kongo
Baca dalam 60 detik
- Aston Villa mengikat kontrak sponsor senilai £20 juta per tahun dengan Visit Rwanda, menggantikan Betano di bagian depan kostum tim.
- Amnesty International mengecam langkah ini sebagai upaya Rwanda mengalihkan perhatian dari pelanggaran HAM dan keterlibatan dalam konflik bersenjata di Kongo.
- Sejumlah klub besar Eropa seperti Arsenal, Bayern Munich, dan PSG sebelumnya juga mendapat tekanan serupa terkait kemitraan dengan Rwanda.

Aston Villa resmi meneken kontrak sponsor multi-tahun dengan Visit Rwanda, badan pariwisata negara Afrika tersebut, yang akan menghiasi bagian depan kostum tim utama pria, wanita, dan akademi. Nilai kesepakatan mencapai £20 juta per tahun, menjadikannya sponsor termahal dalam sejarah klub. Namun, langkah ini langsung menuai kecaman dari pegiat hak asasi manusia yang menilai Rwanda tengah memanfaatkan sepak bola untuk memperbaiki citra di tengah tuduhan pelanggaran HAM dan keterlibatan dalam konflik di Republik Demokratik Kongo (DRC).
Felix Jakens, Kepala Kampanye Amnesty International Inggris, menyebut praktik ini sebagai sportswashing—upaya negara dengan catatan HAM buruk menggunakan olahraga untuk mengalihkan perhatian publik. “Rwanda menggunakan sepak bola untuk menutupi pelanggaran sistematis di dalam negeri, seperti penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan pembungkaman kebebasan berpendapat,” ujar Jakens dalam pernyataan kepada BBC Sport. Ia juga menyoroti peran Rwanda dalam memicu kekerasan di Kongo timur melalui dukungan terhadap kelompok pemberontak M23 dan intervensi militer langsung.
Kontroversi ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Arsenal, Bayern Munich, dan Paris Saint-Germain juga menjadi sasaran kritik karena menjalin kerja sama dengan Rwanda. Tahun lalu, Menteri Luar Negeri DRC, Therese Kayikwamba Wagner, mengirim surat kepada pemilik ketiga klub tersebut untuk mempertanyakan moralitas kemitraan yang disebutnya “bernoda darah”. Arsenal sendiri telah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak sponsor lengan dengan Visit Rwanda setelah musim 2025/26, menyusul tekanan dari kelompok suporter Gunners for Peace yang bahkan menyarankan Tottenham sebagai sponsor alternatif.
Bagi Aston Villa, kesepakatan ini menjadi langkah strategis setelah Premier League melarang sponsor judi di bagian depan kostum mulai musim lalu. Presiden Operasi Bisnis Villa, Francesco Calvo, menyebut kerja sama ini sebagai simbol ekspansi klub ke pasar internasional. Namun, Amnesty menilai klub seharusnya lebih kritis terhadap mitra bisnisnya. “Kami berharap Aston Villa dan Premier League ikut menyuarakan keprihatinan ini,” tegas Jakens.
Di sisi lain, Rwanda Development Board membantah tuduhan tersebut, menyebut kampanye DRC sebagai upaya “misinformasi dan tekanan politik”. Mereka menegaskan bahwa inisiatif Visit Rwanda justru menunjukkan komitmen negara terhadap perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan inklusif. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Rwanda terus dituding oleh para ahli PBB dan pemerintah Barat mendukung kelompok M23 yang bertanggung jawab atas kekerasan di Kongo timur.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa sponsor asing—terutama dari negara dengan catatan HAM kontroversial—dapat memicu perdebatan etis di dunia olahraga. Dengan maraknya investasi Timur Tengah dan Afrika di sepak bola Eropa, klub-klub besar dituntut untuk lebih transparan dalam memilih mitra. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana klub bersedia mempertaruhkan reputasi demi keuntungan finansial jangka pendek?



