Rekor Kecelakaan Beruntun: Sopir Mabuk Etomidate Terseret 7 Kasus dalam 4 Bulan
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria 31 tahun di Singapura didakwa mengemudi di bawah pengaruh etomidate setelah terlibat dalam tujuh kecelakaan lalu lintas dalam kurun empat bulan.
- Polisi menyita alat vaporizer dan mendeteksi zat etomidate dalam darah tersangka, yang juga memberikan keterangan palsu kepada petugas.
- Kasus ini menyoroti bahaya penyalahgunaan obat penenang di kalangan pengemudi, memicu diskusi tentang pengawasan narkoba di jalan raya.

Seorang pria berusia 31 tahun di Singapura akan menghadapi persidangan pada Rabu (15/7) setelah didakwa mengemudi dalam pengaruh etomidate—obat anestesi yang kerap disalahgunakan sebagai narkoba rekreasi—serta sejumlah pelanggaran lalu lintas berat, termasuk mengemudi berbahaya yang menyebabkan luka serius. Tersangka diketahui terlibat dalam tujuh kecelakaan dalam rentang waktu Oktober 2024 hingga Februari 2025, sebuah rekor yang mengundang perhatian otoritas setempat.
Kecelakaan terakhir terjadi pada 6 Februari 2025 pukul 08.00 di Punggol North Avenue, saat tersangka mengemudikan mobil melawan arus di jalan tiga lajur dan bertabrakan langsung dengan sebuah lori. Meski tidak ada korban jiwa, polisi menyita sebuah vaporizer dan pod dari lokasi, dan analisis oleh Health Sciences Authority (HSA) mengonfirmasi adanya etomidate dalam sampel darah tersangka. Surat izin mengemudinya langsung dicabut di tempat.
Rangkaian kecelakaan dimulai pada 21 Oktober 2024 di Sengkang East Way, saat tersangka menabrak bagian belakang taksi yang berhenti, menyebabkan sopir taksi perempuan 64 tahun mengalami cedera leher. Keesokan harinya, ia mengemudi secara berbahaya di Marina Coastal Expressway (MCE) dengan berpindah-pindah lajur secara tidak menentu, menabrak dinding kiri, lalu menabrak mobil lain hingga pengemudi mobil tersebut menderita patah pergelangan tangan kanan serta cedera leher dan punggung.
Pada 1 Februari 2025, tersangka terlibat dalam dua tabrakan beruntun: pertama di Punggol Way dan kedua di Dunearn Road. Di lokasi kedua, polisi kembali menyita vaporizer dan merujuk pelanggaran terkait vape ke HSA. Investigasi kemudian mengungkap bahwa tersangka memberikan pernyataan palsu dengan mengklaim tidak menghirup dari vaporizer tersebut. Keesokan harinya, ia kehilangan kendali saat berbelok di persimpangan Yio Chu Kang Link dan Boundary Road, menabrak tiang lampu lalu lintas hingga mobilnya terguling.
Kecelakaan keempat dalam empat hari berturut-turut terjadi pada 4 Februari 2025 di Simei Avenue, saat tersangka menabrak bagian belakang sepeda motor. Pengendara motor laki-laki 27 tahun menderita patah pergelangan tangan dan cedera dada. Lagi-lagi, alat vape disita dari tersangka.
Polisi Singapura menegaskan bahwa mengemudi di bawah pengaruh zat yang mengganggu kemampuan berkendara adalah tindakan sangat berbahaya dan tidak bertanggung jawab. “Kami memandang serius pelanggaran semacam ini dan tidak akan ragu mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang membahayakan keselamatan publik di jalan,” ujar pernyataan polisi.
Jika terbukti bersalah atas mengemudi di bawah pengaruh narkoba berdasarkan Pasal 67(1)(a) Undang-Undang Lalu Lintas Jalan 1961, tersangka dapat didenda S$2.000 hingga S$10.000, atau dipenjara hingga 12 bulan, atau keduanya. Untuk tuduhan mengemudi berbahaya yang menyebabkan luka berat, ancaman hukumannya mencapai lima tahun penjara. Tersangka juga menghadapi dakwaan memberikan informasi palsu kepada petugas publik, yang diancam hukuman penjara hingga tiga tahun.
Kasus ini menjadi pengingat akan bahaya penyalahgunaan obat penenang seperti etomidate di kalangan pengemudi. Di Indonesia, meskipun etomidate belum setenar narkoba lain, penggunaannya sebagai obat bius yang mudah diperoleh secara ilegal perlu diwaspadai. Otoritas lalu lintas diharapkan dapat memperketat pengawasan dan memberikan edukasi tentang risiko fatal berkendara di bawah pengaruh zat terlarang.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah hukuman yang ada cukup jera untuk mencegah terulangnya kasus serupa, atau perlukan langkah lebih radikal seperti penerapan sistem deteksi narkoba di jalan raya secara massal?



