Wall Street Mixed, Harga Minyak Melonjak: Perang AS-Iran Bayangi Data Inflasi AS
Baca dalam 60 detik
- Inflasi AS Juni lebih rendah dari perkiraan, memicu harapan pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
- Eskalasi militer AS-Iran di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi sebulan.
- Kinerja keuangan bank-bank besar AS kuartal II melampaui ekspektasi, namun ketegangan geopolitik masih membebani sentimen pasar.

Pasar saham global bergerak mixed pada Selasa (14/7) setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan dan laporan laba kuartal kedua yang solid dari perbankan utama, namun di sisi lain harga minyak mentah kembali merangkak naik akibat memanasnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks Harga Konsumen (CPI) tahunan Juni hanya naik 3,5 persen, lebih rendah dari prediksi analis yang sebesar 3,6 persen dan turun signifikan dari capaian bulan sebelumnya yang mencapai 4,2 persen. Secara bulanan, CPI bahkan terkontraksi 0,4 persen, kontras dengan ekspektasi penurunan tipis 0,1 persen. Pelonggaran inflasi ini terutama didorong oleh penurunan harga bensin dari level tertinggi multi-tahun setelah gencatan senjata rapuh AS-Iran mulai berlaku bulan lalu.
Namun, ketenangan itu kandas setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania dan Amerika membalas dengan serangan selama lima jam—malam ketiga berturut-turut. Lebih jauh, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu lalu, yang langsung direspons Washington dengan memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran. Imbasnya, harga minyak mentah AS (WTI) melonjak 1,05 persen ke 78,94 dolar AS per barel, sementara Brent naik 1,52 persen ke 84,57 dolar AS per barel—keduanya menyentuh level tertinggi dalam satu bulan terakhir.
Di lantai bursa, indeks S&P 500 menguat 0,31 persen dan Nasdaq Composite melesat 0,75 persen, namun Dow Jones Industrial Average justru melemah tipis 0,05 persen. Saham-saham perbankan besar seperti Bank of America, Citigroup, dan JPMorgan Chase mencatatkan kenaikan setelah melaporkan laba kuartal II yang melampaui estimasi, ditopang pendapatan trading yang kuat dan aktivitas merger korporasi. JPMorgan bahkan membukukan laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Tim Ghriskey, senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder, menilai bahwa meskipun pelaku pasar untuk sementara mengabaikan eskalasi Timur Tengah, risiko geopolitik tetap menjadi beban. "Berapa lama tahap perang ini berlangsung akan sangat menentukan. Saat ini pasar mendiskon isu tersebut, tapi dampaknya masih terasa dan melemahkan momentum kenaikan yang seharusnya lebih kuat dari hasil keuangan perusahaan," ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa angka CPI yang positif bulan ini bisa berubah drastis bulan depan jika harga minyak terus meroket.
Di pasar valuta asing, dolar AS melemah setelah data inflasi meredupkan ekspektasi pengetatan agresif The Fed. Indeks dolar tergelincir 0,52 persen ke 100,74, sementara euro menguat 0,55 persen ke 1,1444 dolar AS. Yen Jepang juga perkasa dengan dolar melemah 0,28 persen ke 161,98. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) ikut turun: yield 10 tahun merosot 3,46 basis poin ke 4,575 persen, sedangkan yield 2 tahun—yang paling sensitif terhadap suku bunga—turun 6,96 bp ke 4,193 persen.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dan pelemahan dolar AS membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, harga minyak yang lebih tinggi akan memperberat beban subsidi energi dan mendorong inflasi impor. Namun di sisi lain, dolar yang melemah bisa meredam tekanan depresiasi rupiah dan memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan kenaikan suku bunga. Pasar akan mencermati pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di depan Kongres pada Selasa malam waktu setempat untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Dengan inflasi yang mulai melandai namun ketegangan geopolitik yang masih membara, pertanyaan besarnya adalah: akankah The Fed tetap mempertahankan sikap hawkish-nya, atau justru melunak demi menjaga stabilitas pertumbuhan? Jawabannya akan menentukan arah pasar keuangan global dalam beberapa pekan ke depan.



