Topan Bavi Terjang China: 260.000 Jiwa Mengungsi, Kerusakan Meluas
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi, siklon tropis terkuat tahun ini di China, memaksa evakuasi lebih dari 260.000 warga di Liaoning.
- Badai dengan radius setara luas Perancis ini bertahan 13 hari berkat inti hangat yang tidak biasa, memperparah banjir di timur laut China.
- Gangguan transportasi dan penutupan sekolah meluas; potensi dampak serupa perlu diwaspadai Indonesia saat musim siklon tropis.

Topan Bavi, badai tropis paling dahsyat yang menerjang China daratan tahun ini, telah memaksa lebih dari 260.000 penduduk di Provinsi Liaoning, timur laut China, meninggalkan rumah mereka akibat banjir besar yang dipicu oleh curah hujan ekstrem. Otoritas setempat melaporkan bahwa hujan lebat diperkirakan masih akan berlangsung hingga Selasa (14/7), dengan potensi curah hujan ekstrem di sejumlah wilayah saat Bavi terus menarik massa udara lembab dari daerah tropis ke utara.
Di Shenyang, ibu kota Provinsi Liaoning, sebuah mercusuar terapung terlepas dari kabel tegangan tinggi dan hanyut di sepanjang jalan utama serta melintas di bawah jembatan, seperti terlihat dalam video yang beredar di media sosial China. Kejadian ini menjadi salah satu gambaran betapa parahnya dampak Bavi terhadap infrastruktur perkotaan. Seluruh sekolah dan lembaga pelatihan di kota-kota terdampak, termasuk Shenyang dan Jilin, telah diperintahkan untuk menutup kegiatan belajar-mengajar. Layanan transportasi umum juga mengalami gangguan besar.
Bavi, yang radiusnya setara dengan luas wilayah Perancis, terbentuk di Samudra Pasifik 13 hari lalu. Struktur badai ini tetap utuh bahkan setelah mencapai daratan China timur pada Sabtu malam, menjadikannya siklon tropis dengan masa hidup terpanjang di kawasan Asia-Pasifik tahun ini. Menurut para meteorolog China, umur panjang Bavi disebabkan oleh inti hangat yang terpelihara dengan baik, memungkinkan badai mempertahankan sebagian besar kelembapannya saat bergerak ke utara menuju Semenanjung Korea. Curah hujan intens diperkirakan akan terjadi ketika Bavi, yang saat ini diklasifikasikan sebagai badai tropis, melambat dan mulai melepaskan seluruh kelembapan yang telah ditampungnya.
Fenomena ini menarik perhatian para ahli meteorologi karena Bavi menunjukkan karakteristik yang tidak biasa. Biasanya, siklon tropis akan melemah dengan cepat setelah mencapai daratan, namun Bavi justru mempertahankan kekuatannya. Hal ini disebabkan oleh suhu permukaan laut yang lebih hangat dari rata-rata di jalur pergerakannya, yang menyediakan energi tambahan. Kondisi ini juga diperparah oleh pola sirkulasi atmosfer yang memungkinkan Bavi terus menarik udara lembab dari laut.
Bagi Indonesia, meskipun tidak berada di jalur langsung Bavi, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi siklon tropis yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Wilayah Indonesia bagian barat dan selatan, seperti Aceh, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara, kerap terdampak siklon tropis yang terbentuk di Samudra Hindia. Peningkatan suhu permukaan laut di perairan Indonesia juga berpotensi memperkuat siklon yang melintas, sehingga mitigasi bencana harus terus ditingkatkan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah intensitas dan frekuensi siklon tropis seperti Bavi akan terus meningkat seiring pemanasan global. Para ilmuwan memperkirakan bahwa perubahan iklim dapat membuat badai tropis lebih kuat dan lebih lama bertahan, seperti yang terlihat pada Bavi. Bagi negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, hal ini menuntut adaptasi sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan bencana yang lebih baik.



