Stasiun Kayu Berusia 128 Tahun di Jepang Disulap Menjadi Hotel Unik
Baca dalam 60 detik
- Bangunan stasiun kereta kayu peninggalan era Meiji di Nara, Jepang, resmi beroperasi sebagai hotel bertema kereta malam.
- Proyek revitalisasi senilai 35 juta yen ini melibatkan perusahaan swasta dan siswa SMA setempat untuk menciptakan pengalaman menginap yang autentik.
- Hotel hanya menerima satu grup per hari dengan tarif mulai 13.200 yen, menawarkan sensasi tidur di stasiun yang masih aktif.

Sebuah stasiun kereta kayu yang telah berdiri selama 128 tahun di Kota Tenri, Prefektur Nara, Jepang, kini menjelma menjadi hotel yang menawarkan pengalaman menginap tak lazim: tidur di bangunan stasiun yang masih beroperasi, dengan kereta melintas tepat di samping jendela kamar.
Hotel bernama "CEUEU Ichinomoto Station" ini menempati bangunan Stasiun Ichinomoto milik JR Jalur Sakurai yang dibangun pada 1898, era Meiji. Stasiun yang sempat menjadi stasiun tak berawak sejak 2002 itu diserahkan oleh West Japan Railway Co. kepada Pemerintah Kota Tenri pada September 2025 karena kondisinya yang mulai rusak. Pemerintah kota kemudian menggelar sayembara pemanfaatan bangunan cagar budaya tersebut, dan memenangkan proposal dari Risshisha Co., perusahaan pengembang dan pengelola hotel asal Kyoto.
Biaya renovasi mencapai sekitar 35 juta yen (sekitar Rp3,6 miliar). Bangunan satu lantai yang dulunya merupakan kantor dan ruang tunggu itu diubah menjadi fasilitas bergaya loteng. Kayu cemara lokal dari Prefektur Nara digunakan untuk interior dan eksterior, dengan skema warna putih dan cokelat yang menenangkan. Sentuhan unik seperti pegangan tali di loteng dan jam dinding yang sengaja tidak berfungsiโuntuk mengundang tamu "melupakan waktu dan bersantai"โmenambah daya tarik tempat ini.
Menurut perwakilan Risshisha, Koji Maeda, nama "CEUEU" merupakan plesetan dari ejaan kana historis kata "shoyo" yang berarti berkelana bebas. Hotel ini semula dijadwalkan buka pada Mei, tetapi tertunda karena kelangkaan bahan baku pipa akibat konflik di Timur Tengah. Keterlambatan pasokan komponen pipa menjadi kendala yang memperpanjang masa konstruksi.
Proyek ini juga melibatkan partisipasi siswa SMA Asuka Mirai kampus Nara, sebuah sekolah menengah korespondensi yang berlokasi di sebelah stasiun. Dipimpin oleh dewan siswa, mereka membuat peta area sekitar stasiun untuk tamu. Ide mereka untuk menyediakan mesin penjual makanan juga diadopsi dan akan segera dipasang di ruang tunggu stasiun.
Pada 4 Juli lalu, sekitar 40 orang yang terlibat dalam proyek menghadiri upacara pembukaan dan peresmian dengan pemotongan pita. "Tamu dapat mendengarkan suara perlintasan kereta dan gemuruh rel, sambil menikmati keheningan peron di malam hari dan keramaian pagi hari. Saya berharap pengunjung merasakan kemewahan unik ini," ujar Maeda. Wali Kota Tenri, Ken Namikawa, menambahkan, "Lokasinya strategis untuk bepergian ke mana pun. Saya berharap ini menjadi gerbang yang menghubungkan situs Warisan Dunia di seluruh prefektur."
Bagi pelancong Indonesia yang gemar wisata kereta atau mencari pengalaman menginap berbeda, hotel ini bisa menjadi destinasi menarik. Dengan tarif sekitar Rp800.000 per orang, pengunjung bisa merasakan sensasi "tidur di stasiun" yang masih aktif, dikelilingi suasanan pedesaan Jepang yang tenang. Namun, perlu dicatat bahwa hotel tidak menyediakan makanan dan hanya menerima satu grup per hari, sehingga pemesanan jauh-jauh hari sangat disarankan.
Ke depannya, model revitalisasi bangunan stasiun bersejarah seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi pengelolaan aset kereta api di Indonesia, di mana banyak stasiun tua yang belum dimanfaatkan secara optimal. Akankah konsep serupa diterapkan di stasiun-stasiun peninggalan Belanda di Tanah Air?



