Lonjakan Pendapatan 27.545% Bikin BEI Geleng-Geleng, Emiten Teguk Diciduk
Baca dalam 60 detik
- Otoritas bursa meminta klarifikasi atas pendapatan TGUK yang meroket 27.545% secara tahunan menjadi Rp200,7 miliar pada kuartal I-2026.
- Kenaikan drastis itu dipicu peralihan bisnis dari gerai minuman ke perdagangan daging beku, yang belum memiliki kontrak jangka panjang dengan pasar modern.
- Langkah ini menyusul penutupan 126 gerai pada 2024 dan rugi bersih Rp81,27 miliar, memicu pertanyaan tentang keberlanjutan model bisnis baru tersebut.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengirimkan surat permintaan penjelasan kepada PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) setelah emiten yang sebelumnya identik dengan gerai minuman Teguk itu membukukan lonjakan pendapatan yang tidak lazim: melesat 27.545% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Angka fantastis ini langsung menjadi sorotan regulator karena menyimpang jauh dari kinerja historis perusahaan yang justru tengah terpuruk.
Dalam laporan keuangan per 31 Maret 2026, TGUK mencatat penjualan sebesar Rp200,7 miliar, meroket dari posisi Rp726 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Manajemen menjelaskan bahwa kenaikan itu terutama berasal dari lini usaha baru: perdagangan daging beku (frozen meat), yang telah mendapatkan persetujuan RUPS dan perubahan anggaran dasar. Sebagian besar transaksi dilakukan melalui jaringan agen dan distributor (general trade) dengan sistem pemesanan dan kesepakatan harga spot, tanpa kontrak jangka panjang.
Pilihan skema bisnis ini, menurut manajemen, didasarkan pada sifat harga daging beku yang fluktuatif sehingga membutuhkan fleksibilitas. Namun, hingga saat ini TGUK belum menjalin kerja sama dengan pasar modern (modern trade) yang biasanya mensyaratkan kontrak jangka panjang. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas pendapatan ke depan, terutama karena lonjakan penjualan disebut juga dipengaruhi faktor musiman Ramadan dan Idulfitri.
Konteks transformasi TGUK tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelamnya. Pada 2024, perusahaan menutup 126 gerai Teguk di tengah penurunan kinerja usaha. Lebih parah lagi, perseroan mencatat penghapusan persediaan bahan baku senilai Rp21,4 miliar karena barang rusak dan kedaluwarsa. Per September 2024, persediaan bahan baku masih Rp22,5 miliar, tetapi pada akhir Desember 2024 tersisa hanya Rp1,1 miliar. Manajemen mengakui bahwa barang rusak tersebut akibat penutupan gerai yang membuat stok tidak terpakai. Pada akhir 2024, TGUK membukukan rugi bersih Rp81,27 miliar, berbalik dari laba Rp5,79 miliar pada 2023.
Analis pasar menilai langkah TGUK banting setir ke perdagangan daging beku adalah upaya penyelamatan yang spekulatif. "Meskipun secara akuntansi pendapatan melonjak, risiko konsentrasi pada satu komoditas dan ketiadaan kontrak jangka panjang membuat fundamentalnya rapuh," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa pengawasan BEI wajar mengingat pola pendapatan yang ekstrem dan riwayat kerugian besar.
Bagi investor Indonesia, kasus TGUK menjadi pengingat bahwa lonjakan pendapatan drastis belum tentu mencerminkan kesehatan bisnis yang berkelanjutan. Apalagi, emiten ini sebelumnya bergerak di sektor ritel minuman yang sedang lesu, lalu tiba-tiba mengklaim sukses di bisnis daging beku yang padat modal dan kompetitif. Pertanyaan besarnya: apakah TGUK mampu mempertahankan momentum penjualan di luar musim Ramadan, atau justru akan kembali terjerat masalah persediaan seperti dua tahun lalu? Jawabannya akan menentukan apakah saham ini layak dilirik atau dihindari.



