Rekening Dolar Melonjak 58%: DHE SDA dan Pelemahan Rupiah Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Jumlah rekening dolar di Indonesia melesat 58,2% secara tahunan per Mei 2026, didorong oleh aturan baru DHE SDA yang mewajibkan eksportir menempatkan devisa di bank BUMN.
- Pertumbuhan rekening valas ini kontras dengan kenaikan rekening rupiah yang hanya 8,4%, menandakan pergeseran preferensi masyarakat terhadap mata uang asing di tengah pelemahan rupiah.
- Fenomena ini berpotensi memperkuat likuiditas dolar di perbankan nasional, namun juga mencerminkan tekanan pada nilai tukar yang sudah melemah hingga 8% year-to-date.

Jumlah rekening simpanan dolar Amerika Serikat di Indonesia mencatat lonjakan signifikan sebesar 58,2% secara tahunan pada Mei 2026, mencapai 8,9 juta rekening. Angka ini mengindikasikan perubahan perilaku masyarakat dan korporasi dalam mengelola devisa, seiring dengan implementasi kebijakan baru yang mewajibkan eksportir menyimpan seluruh hasil ekspor sumber daya alam di dalam negeri.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan rekening dolar tersebut jauh melampaui kenaikan rekening rupiah yang hanya 8,4% pada periode yang sama. Meskipun porsi rekening dolar masih kecil, yaitu 1,3% dari total rekening nasional, nilai nominal simpanan valas mencapai Rp1.714,76 triliun, setara 16,6% dari total simpanan masyarakat. Sementara itu, nominal simpanan rupiah tumbuh 12,4% menjadi Rp8.615,16 triliun.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hery Gunardi, mengaitkan lonjakan ini dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 tentang Dana Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Aturan yang efektif sejak 1 Juni 2026 itu mewajibkan eksportir menempatkan 100% DHE SDA di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). โYa memang ada peningkatan, karena DHE yang masuk di Bank Himbara cukup tinggi,โ ujar Hery yang juga menjabat Direktur Utama BRI.
Kebijakan ini dirancang untuk memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri dan menopang stabilitas rupiah. Namun, dampaknya langsung terlihat dari peningkatan signifikan jumlah rekening dolar, terutama di bank BUMN. Hery menegaskan bahwa peningkatan ini wajar seiring dengan kembalinya hasil ekspor ke sistem perbankan nasional. โJadi pasti meningkat kalau DHE hasil ekspornya balik lagi, dan hasil ekspor masuk pasti meningkat,โ katanya.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sekitar 7,5% hingga 8% secara year-to-date, dengan posisi saat ini di Rp18.080 per dolar. Pelemahan ini mendorong masyarakat dan korporasi untuk mengalihkan simpanan ke valas sebagai lindung nilai, memperkuat tren kenaikan rekening dolar.
Fenomena ini memberikan gambaran ganda: di satu sisi, likuiditas dolar di perbankan meningkat, namun di sisi lain, permintaan valas yang tinggi mencerminkan ekspektasi pelemahan rupiah lebih lanjut. Bagi investor dan pelaku pasar, langkah antisipatif terhadap fluktuasi kurs menjadi semakin krusial. Pertanyaannya, akankah kebijakan DHE SDA cukup kuat untuk membalikkan tekanan pada rupiah, atau justru memperdalam ketergantungan pada dolar?



