Trump Kembali Gempur Iran, Blokade Pelabuhan dan Tarif 20% di Selat Hormuz Mengancam Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Amerika Serikat melancarkan serangan udara gelombang ketiga ke Iran, menargetkan enam kota termasuk Bushehr dan Bandar Abbas, dengan klaim menghancurkan kemampuan militer Iran.
- Presiden Trump mengumumkan blokade pelabuhan Iran dan pengenaan biaya 20% untuk semua kargo yang melintasi Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak lebih dari 9%.
- Analis memperingatkan bahwa kebijakan ini akan menghantam Asiaโterutama Chinaโyang mengimpor 80% minyak mentah melalui jalur tersebut, dan mempertanyakan kemampuan AS menerapkan tarif tersebut.

Untuk malam ketiga berturut-turut, Amerika Serikat kembali menghujani Iran dengan rentetan serangan udara yang berlangsung sekitar lima jam, Selasa (14/7) dini hari waktu setempat, menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang kembali memanas di Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi ini bertujuan melumpuhkan kemampuan Iran menyerang warga sipil dan pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur air vital bagi pasokan energi global.
Serangan kali ini menyasar enam lokasi militer di Iran, termasuk Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas. CENTCOM mengklaim misi berhasil menghancurkan target-target strategis. Namun, Iran melalui Garda Revolusi membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke Bahrain, menargetkan kompleks perumahan pasukan AS. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan dua kapal tanker nasionalnya, Mombasa dan Al Bahiyah, terkena rudal jelajah Iran di perairan Oman, menewaskan satu awak dan melukai delapan lainnya.
Di tengah gempuran, Presiden Donald Trump justru membuka peluang negosiasi. "Ya, saya pikir kesepakatan masih mungkin," ujarnya kepada wartawan di Gedung Putih. Namun, pernyataan itu kontras dengan aksi nyata: Trump telah memberi tahu Kongres bahwa AS kembali dalam status konflik militer dengan Iran, memberikan Pentagon wewenang 60 hari tambahan tanpa persetujuan kongres. Ia juga mengancam akan menghancurkan "Pickaxe Mountain", fasilitas nuklir bawah tanah dekat Natanz yang diduga menjadi lokasi pengayaan uranium rahasia.
Langkah paling kontroversial adalah keputusan Trump untuk memberlakukan kembali blokade pelabuhan Iran mulai Selasa malam dan mengenakan biaya 20 persen untuk semua kargo yang melintasi Selat Hormuz. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut AS akan dikenal sebagai "penjaga Selat Hormuz". Biaya tersebut setara dengan US$30 juta per kapal tanker minyak raksasa, jauh lebih tinggi dari usulan Iran yang hanya US$1 per barel atau maksimal US$2 juta per kapal.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung mencemooh ancaman tarif Trump. "20 persen tentu terlalu mahal," sindirnya di media sosial, seraya menegaskan bahwa Iran pun bisa menawarkan biaya lebih murah. Sikap ini ironis mengingat Washington selama ini menentang keras keinginan Iran memungut biaya di selat tersebut, yang umumnya dilarang hukum internasional.
Analis memperingatkan dampak ekonomi global yang parah. Amin Saikal, profesor emeritus di Australian National University, mengatakan, "Harga minyak akan melonjak tak terkendali. Ekonomi dunia kembali disandera harga minyak tinggi." Asia menjadi pihak paling rentan karena ketergantungan pada jalur tersebut. China, konsumen minyak terbesar dunia, sangat bergantung pada impor minyak mentah Iran. Blokade ekspor Iran bisa mengganggu pasokan secara signifikan.
Namun, keraguan muncul mengenai kemampuan AS menerapkan kebijakan tersebut. "Bagaimana Trump akan menegakkannya? Apakah dia punya mekanisme di lapangan untuk memungut biaya itu?" tanya Saikal, seraya menambahkan bahwa mengawasi salah satu titik tersibuk di dunia akan sangat mahal bagi AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut nota kesepahaman Juni lalu yang menjadi dasar negosiasi dan penghentian blokade AS kini "dalam krisis". Iran mengancam akan mengabaikan kewajibannya jika Washington melakukan hal sama, namun tetap melanjutkan perundingan dengan mediator dari Qatar, Pakistan, dan Oman untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Bader Al-Saif, analis dari Chatham House, menilai serangan yang meningkat hanya akan menunda kesepakatan permanen. "Kedua pihak ingin mengakhiri kebuntuan dengan syarat mereka sendiri, dan semakin sulit melakukannya. Maka, serangan kembali terjadi dan meningkat skalanya." Dengan harga minyak yang terus bergejolak dan ketidakpastian di Selat Hormuz, pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana AS dan Iran bersedia mendorong konfrontasi sebelum benar-benar duduk di meja perundingan?



