Subaru Tarik 541.237 Mobil di AS Akibat Label Berat Poros Keliru
Baca dalam 60 detik
- Subaru menarik lebih dari setengah juta unit kendaraan di Amerika Serikat karena label kapasitas bobot poros (GAWR) yang tercantum tidak sesuai spesifikasi.
- Kesalahan administratif pada sertifikasi ini berpotensi menyebabkan kelebihan muatan dan meningkatkan risiko kecelakaan, meski belum ada laporan cedera.
- Penarikan ini menjadi pengingat bagi pasar otomotif Indonesia akan pentingnya kepatuhan regulasi teknis, terutama bagi merek yang juga populer di dalam negeri.

Subaru terpaksa menarik 541.237 unit kendaraan di Amerika Serikat setelah ditemukan ketidaksesuaian pada label sertifikasi bobot poros kendaraan. Langkah ini diumumkan setelah otoritas keselamatan lalu lintas jalan raya AS (NHTSA) mengonfirmasi bahwa label Gross Axle Weight Rating (GAWR) yang tertera pada kendaraan tidak akurat.
Menurut NHTSA, kesalahan tersebut terjadi pada proses pencetakan label di pabrik. Angka GAWR yang tercantum lebih rendah dari spesifikasi teknis sebenarnya, sehingga berpotensi menyesatkan pengemudi mengenai batas muatan maksimum yang aman. Meskipun secara mekanis kendaraan mampu menahan beban lebih besar, informasi yang salah dapat menyebabkan pengemudi membebani poros melebihi kapasitas yang diizinkan, meningkatkan risiko kegagalan ban, suspensi, atau bahkan kecelakaan.
Subaru menyatakan bahwa penarikan ini bersifat sukarela dan belum ada laporan kecelakaan atau cedera terkait masalah tersebut. Namun, langkah ini diambil sebagai bentuk kepatuhan terhadap standar keselamatan federal. Perbaikan akan dilakukan secara gratis di dealer resmi dengan mengganti label sertifikasi yang benar. Pemilik kendaraan yang terdampak akan mendapat pemberitahuan melalui surat mulai pertengahan Agustus 2025.
Kesalahan label GAWR termasuk dalam kategori cacat administratif, namun tetap serius karena menyangkut informasi keselamatan. GAWR adalah batas berat maksimum yang dapat ditahan oleh setiap poros kendaraan. Jika terlampaui, komponen seperti ban, pelek, dan sistem suspensi bisa mengalami tekanan berlebih. Dalam kasus ekstrem, kelebihan muatan dapat menyebabkan pecah ban atau kehilangan kendali, terutama saat bermanuver darurat atau di jalan tidak rata.
Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat Subaru merupakan salah satu merek mobil Jepang yang cukup diminati, khususnya model SUV seperti Forester dan Outback. Meskipun penarikan ini hanya berlaku untuk kendaraan yang dipasarkan di AS, konsumen di Indonesia perlu waspada terhadap potensi masalah serupa. Kementerian Perhubungan dan Badan Pengelola Transportasi Darat dapat menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi prosedur sertifikasi kendaraan impor. Pasalnya, label GAWR juga menjadi salah satu persyaratan teknis dalam pengujian tipe kendaraan di Indonesia.
Ke depan, produsen otomotif global harus semakin teliti dalam proses pencetakan dan verifikasi label keselamatan. Kesalahan kecil seperti ini bisa berdampak besar pada reputasi merek dan kepercayaan konsumen. Subaru sendiri telah beberapa kali melakukan recall dalam beberapa tahun terakhir, termasuk untuk masalah mesin dan sistem pengereman. Pertanyaannya, apakah prosedur quality control di pabrik sudah cukup ketat untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa?



