Kekerasan di China: Ibu Mertua Dipukul karena Pilih Pacar daripada Jaga Cucu
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan di Jiaxing, China, memukul ibu mertuanya hingga empat tulang rusuk retak karena dianggap lebih memilih berkencan daripada menjaga cucu.
- Suami membela istrinya dan menyebut ibunya 'tidak bermoral', sementara keluarga lain menuding pasangan itu lalai sebagai orang tua.
- Kasus ini memicu perdebatan sengit di media sosial China tentang batas kewajiban pengasuhan antargenerasi dan konsekuensi hukum kekerasan domestik.

Seorang perempuan di Kota Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China Timur, dilaporkan memukul ibu mertuanya hingga empat tulang rusuk retak setelah menuduh perempuan tua itu mengabaikan cucu demi menjalin hubungan asmara. Insiden yang ditayangkan Zhejiang Television ini memicu perdebatan sengit di media sosial China tentang kewajiban pengasuhan anak dan batas tanggung jawab keluarga.
Konflik bermula ketika Jiao dan kakak laki-lakinya kehilangan ayah. Keduanya tetap tinggal di kampung halaman, sementara ibu mereka, Shen, pindah ke Jiaxing bersama kakak perempuan mereka. Jiao dan istrinya, yang memiliki dua anak dan bekerja di kota berbeda, kemudian menitipkan anak-anak tersebut kepada Shen. Usia kedua anak tidak diungkapkan dalam laporan.
Ketegangan memuncak setelah putra Jiao memberi tahu ibunya melalui kamera pengawas rumah bahwa ia merasa tidak enak badan, tetapi neneknya menolak mengukur suhu tubuhnya. Sang ibu yang khawatir segera naik kereta cepat dan tiba di rumah Shen dalam waktu sekitar satu jam. Shen mengeluh bahwa cucunya sulit diatur dan ia juga sedang sakit gigi. Saat ditawari ke rumah sakit, Shen menolak dan memilih menemui pacarnya. Ia bahkan diduga berkata, "Saya lebih baik mati daripada menjaga cucu."
Pertengkaran berubah menjadi kekerasan fisik. Menantu perempuan itu menyerang Shen hingga mengalami luka di wajah dan patah tulang rusuk. Laporan menyebutkan ini bukan pertama kalinya Shen dianiaya oleh menantunya karena dianggap gagal mengasuh anak. Suami Shen, Jiao, justru membela istrinya dan menyebut ibunya "tidak bermoral" serta "pantas" dipukul. Ia menuduh Shen lebih mementingkan hubungan asmara daripada cucu, dan dengan kondisi keuangan yang sulit, ia meminta ibunya memilih antara menjaga anak atau memberi tunjangan bulanan.
Namun, kakak perempuan Jiao membela ibunya. Ia mengatakan Shen, yang bekerja sebagai petugas kebersihan dengan upah rendah dan telah bertahun-tahun hidup susah, berhak mendapatkan kesempatan menjalin hubungan dengan pasangan seusianya. Ia juga mengungkapkan bahwa meskipun penghasilannya pas-pasan, Shen telah mentransfer lebih dari 100.000 yuan (sekitar US$15.000) kepada kedua putranya. Shen sendiri menegaskan tidak ingin membesarkan cucu. Akibat penganiayaan itu, ia tidak bisa bekerja dan tidak lagi dapat memberikan dukungan finansial kepada Jiao.
Ma Junzhe, pengacara dari Guangdong Zheqing Law Firm, mengatakan bahwa istri Jiao bisa dituntut atas penganiayaan yang menyebabkan luka ringan, dengan ancaman hukuman penjara hingga tiga tahun. Ma menekankan bahwa tanggung jawab hukum membesarkan dan mendidik anak ada pada orang tua. Karena Jiao dan istrinya mampu bekerja, Shen tidak memiliki kewajiban hukum untuk mengasuh cucu mereka.
Kasus ini hingga kini belum terselesaikan, tetapi telah memicu kemarahan luas di media sosial China. Seorang warganet berkomentar, "Jiao gagal sebagai anak dan sebagai ayah. Jika tidak bisa membesarkan anak sendiri, mengapa punya anak?" Warganet lain menambahkan, "Sekesal apa pun, kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Begitu Anda memukul seseorang, hukum tidak lagi berpihak pada Anda."
Insiden ini mengingatkan pada realitas sosial di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana beban pengasuhan anak kerap dilimpahkan kepada kakek-nenek tanpa batas yang jelas. Pertanyaan mendasar yang muncul: sampai di mana kewajiban orang tua dalam mengasuh cucu? Dan bagaimana hukum melindungi lansia dari kekerasan domestik akibat ekspektasi yang tidak realistis?



