Carol Vorderman Alami Gegar Otak Usai Tersandung Akar Pohon, Sempat Koma
Baca dalam 60 detik
- Pembawa acara TV asal Inggris, Carol Vorderman (65), dilarikan ke rumah sakit setelah tersandung akar pohon dan membenturkan kepala ke aspal hingga pingsan.
- Insiden pada akhir Mei itu menyebabkan gegar otak, muntah-muntah, dan vertigo berkepanjangan yang membutuhkan perawatan khusus fisioterapi.
- Kisah Vorderman menjadi pengingat akan risiko cedera kepala akibat kecelakaan sehari-hari, termasuk di Indonesia yang memiliki banyak trotoar tidak rata.

Pembawa acara televisi kenamaan Inggris, Carol Vorderman, harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan mendadak di dekat kediamannya. Wanita berusia 65 tahun itu tersandung akar pohon yang tidak terlihat saat berjalan di jalur pejalan kaki umum, lalu jatuh dengan keras dan membenturkan kepala ke permukaan aspal hingga tidak sadarkan diri.
Dalam unggahan Instagram yang menjelaskan ketidakhadirannya dari media sosial selama beberapa pekan, Vorderman menceritakan bahwa peristiwa nahas itu terjadi pada akhir Mei. Ia langsung dilarikan ke Bristol Royal Infirmary (BRI) menggunakan ambulans. "Saya berjalan di luar rumah, tersandung akar pohon, dan jatuh dengan keras. Saya tidak sadar. Saya tidak ingat apa yang terjadi setelahnya, tetapi saya tahu ambulans datang," tulisnya.
Setelah menjalani observasi, Vorderman diperbolehkan pulang keesokan harinya. Namun, kondisi gegar otak yang dialaminya justru memburuk. Muntah-muntah hebat dan pusing yang tak kunjung reda memaksanya kembali ke unit gawat darurat untuk menjalani serangkaian CT scan. "Muntah besar-besaran, semua tanda bahaya muncul. Langsung kembali ke rumah sakit, mereka luar biasa. Semua CT scan dilakukan," ungkapnya.
Selama berminggu-minggu, Vorderman harus berjuang melawan memar parah di wajah dan vertigo yang membuatnya merasa seperti berjalan di atas kapal yang berguncang. "Saya merasa seperti berjalan di atas kapal yang bergerak, sering menabrak tembok," ujarnya. Kondisi ini baru membaik setelah fisioterapisnya memperkenalkan teknik Epley, sebuah metode fisik bertahap untuk mengatasi vertigo posisional.
Teknik Epley, yang dijelaskan Vorderman sebagai prosedur memanipulasi "kantong kristal" di telinga bagian dalam yang bergeser, berhasil mengurangi 95 persen rasa pusing setelah sesi pertama. "Saya pikir saya akan jatuh dari ujung bumi. Mata saya bergerak seperti di kartun. Setelah sesi pertama, 95 persen pusingnya hilang," katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dirinya bukan dokter dan tidak memberikan saran medis.
Kisah Vorderman menjadi pengingat akan bahaya tersembunyi di ruang publik. Di Indonesia, trotoar yang rusak, akar pohon yang menonjol, atau lubang di jalan sering kali menjadi penyebab kecelakaan serupa. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa cedera kepala akibat jatuh menyumbang proporsi signifikan dari kasus trauma di unit gawat darurat, terutama pada kelompok usia lanjut. Kasus Vorderman menyoroti pentingnya kesadaran akan keselamatan pejalan kaki dan penanganan cepat terhadap gejala gegar otak, seperti muntah dan vertigo, yang bisa menjadi tanda komplikasi serius.
Setelah menjalani perawatan dan terapi, Vorderman kini dilaporkan dalam kondisi jauh lebih baik. Ia kembali aktif di media sosial dan bersyukur atas dukungan penggemar. Ke depannya, insiden ini membuka diskusi tentang perlunya pemeliharaan infrastruktur pejalan kaki yang lebih baik, tidak hanya di Inggris tetapi juga di negara-negara seperti Indonesia, di mana risiko serupa mengintai setiap hari.



