Obat Penurun Berat Badan Tak Selaras dengan Peningkatan Kualitas Hidup, Studi Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Meta-analisis terhadap 262 uji klinis menemukan bahwa obat obesitas seperti semaglutide dan tirzepatide memang menurunkan berat badan, namun mayoritas tidak memperbaiki kualitas hidup pasien secara bermakna.
- Efek samping seperti kehilangan massa otot, gangguan pencernaan, dan kelelahan menjadi harga yang harus dibayar, terutama pada obat dengan penurunan berat badan paling drastis.
- Para ahli menekankan perlunya pendekatan personal dalam terapi obesitas, di mana risiko kardiovaskular dan preferensi pasien harus dipertimbangkan, bukan sekadar angka di timbangan.

Obat-obatan populer untuk menurunkan berat badan, termasuk golongan GLP-1 seperti Wegovy dan Zepbound, memang terbukti ampuh mengurangi bobot tubuh, tetapi sebuah studi terbaru mengungkap bahwa manfaat tersebut belum tentu diikuti oleh perbaikan kualitas hidup atau kesehatan jantung pasien secara keseluruhan. Temuan ini menjadi peringatan bagi tren konsumsi obat obesitas yang kian melonjak di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Penelitian yang dipublikasikan di The BMJ pada awal 2025 ini menganalisis data dari 262 uji klinis acak yang melibatkan hampir 100 ribu partisipan dengan usia rata-rata 49 tahun dan indeks massa tubuh (BMI) 35. Sekitar 63 persen partisipan adalah perempuan. Studi tersebut membandingkan 19 jenis obat obesitas—baik yang sudah beredar maupun yang masih dalam pengembangan—dengan intervensi gaya hidup, plasebo, atau obat lain, dengan masa pemantauan antara 12 hingga 172 pekan.
Hasilnya, obat-obatan seperti semaglutide (bahan aktif Wegovy) dan tirzepatide (Zepbound) memang menunjukkan penurunan berat badan paling signifikan. Namun, hanya semaglutide injeksi yang terbukti menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 19 persen, risiko serangan jantung 28 persen, dan gagal jantung 57 persen. Tirzepatide juga terkait dengan penurunan risiko gagal jantung hingga 51 persen. Sayangnya, untuk sebagian besar obat lain, manfaat kardiovaskular tidak jelas, dan tidak satu pun obat yang secara meyakinkan memperbaiki kualitas hidup pasien atau menurunkan risiko gagal ginjal.
Peneliti utama, Sheyu Li, profesor endokrinologi dari West China Hospital of Sichuan University, menegaskan bahwa obat obesitas tidak boleh dinilai hanya dari penurunan berat badan. “Keputusan harus didasarkan pada manfaat dan risiko individual, termasuk pencegahan kardiovaskular pada kelompok berisiko tinggi, kehilangan massa lemak dan otot, kelelahan, serta ketidaknyamanan lain akibat obat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kualitas hidup adalah ukuran menyeluruh yang mencakup seluruh aspek kehidupan sehari-hari, dan efek rata-rata bisa netral karena sebagian besar partisipan tidak memiliki risiko kardiovaskular tinggi.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana prevalensi obesitas terus meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 21,8 persen penduduk dewasa mengalami obesitas, dan tren konsumsi obat pelangsing—termasuk yang dijual bebas secara ilegal—semakin marak. Dokter spesialis gizi klinik di Jakarta, dr. Nurul Hidayati, SpGK, yang tidak terlibat dalam studi, mengingatkan bahwa banyak pasien di Indonesia tergiur dengan janji penurunan berat badan cepat tanpa mempertimbangkan efek samping jangka panjang. “Di klinik saya, banyak pasien datang dengan keluhan mual, sembelit, bahkan kehilangan massa otot setelah menggunakan obat-obatan ini tanpa pengawasan,” katanya. Ia menekankan pentingnya konsultasi medis dan perubahan gaya hidup sebagai fondasi utama terapi obesitas.
Studi ini juga menemukan bahwa semakin besar penurunan berat badan, semakin tinggi risiko efek samping, terutama gangguan pencernaan seperti mual dan masalah pencernaan, serta kehilangan massa otot. Misalnya, tirzepatide mengurangi lemak hingga 25,7 persen, tetapi juga mengurangi massa otot sebesar 8,3 persen. Mir Ali, dokter bedah bariatrik dari MemorialCare Surgical Weight Loss Center di California, menekankan bahwa kualitas hidup bersifat subjektif dan multifaktorial. “Penurunan berat badan memang sangat bermanfaat, tetapi belum tentu memperbaiki semua kondisi kesehatan atau aspek kehidupan pasien secara bersamaan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa obat-obatan ini hanyalah alat bantu untuk memfasilitasi perubahan kebiasaan makan dan gaya hidup jangka panjang.
Ke depan, para peneliti mendorong pendekatan pengobatan yang dipersonalisasi, dengan mempertimbangkan ekspektasi pasien, biaya, akses, dan kesediaan untuk menjalani terapi jangka panjang. “Tidak ada obat terbaik untuk semua orang; pilihan yang tepat tergantung pada risiko, prioritas, dan preferensi masing-masing pasien,” kata Li. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah praktik klinis di Indonesia mampu beralih dari sekadar mengejar angka di timbangan menuju perbaikan kualitas hidup yang holistik?



