Ed Sheeran Dorong Pemerintah Inggris Gelontorkan Rp250 Miliar untuk Ruang Musik Gratis di Perpustakaan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Inggris mengucurkan dana £12,5 juta untuk program Music in Libraries yang terinspirasi dari Ed Sheeran.
- Ed Sheeran Foundation ikut merancang program ini setelah melihat keberhasilan model serupa di Skotlandia.
- Program ini membuka akses alat musik dan studio rekaman gratis di 152 perpustakaan di Inggris.

Penyanyi-penulis lagu asal Inggris, Ed Sheeran, menjadi katalis di balik program ambisius pemerintah Inggris yang mengalokasikan dana sebesar £12,5 juta atau sekitar Rp250 miliar untuk mengubah perpustakaan umum di seluruh Inggris menjadi pusat musik komunitas yang dapat diakses secara gratis.
Program bertajuk Music in Libraries ini diumumkan langsung oleh Menteri Kebudayaan, Musik, dan Olahraga Inggris, Lisa Nandy. Inisiatif ini memungkinkan 152 otoritas perpustakaan di Inggris mengajukan pendanaan untuk menyediakan ruang musik khusus yang dilengkapi instrumen, peralatan rekaman setara studio, serta fasilitas lokakarya dan bimbingan. Pendanaan berasal dari Skema Aset Tidak Aktif (Dormant Assets Scheme), yang memanfaatkan dana dari rekening yang tidak aktif dalam jangka waktu lama.
Gagasan ini berawal dari kunjungan Nandy dan Sheeran ke Brighten The Corners, sebuah organisasi seni pemuda di Ipswich yang didukung oleh Ed Sheeran Foundation (ESF), tahun lalu. Dalam pertemuan itu, Sheeran menyampaikan visinya tentang bagaimana perpustakaan—yang sudah menjadi pusat komunitas—dapat dioptimalkan untuk pendidikan musik. Data menunjukkan lebih dari separuh anak usia 10–12 tahun di Inggris mengunjungi perpustakaan dalam setahun terakhir, menjadikannya infrastruktur ideal untuk menjangkau generasi muda.
Sheeran sebelumnya telah melihat langsung dampak positif model We Make Music Instrument Libraries di Skotlandia yang dijalankan oleh Tinderbox, sebuah badan amal yang juga didukung ESF. Keberhasilan program itu meyakinkannya bahwa infrastruktur komunitas yang sudah ada bisa secara dramatis memperluas akses ke pendidikan musik. Sejak saat itu, ESF bekerja di belakang layar bersama Nandy dan timnya untuk mewujudkan konsep tersebut menjadi program nasional.
Dr. Renuka Fernando, CEO Ed Sheeran Foundation, menegaskan bahwa program ini merupakan langkah maju yang signifikan bagi pendidikan musik. "Dengan memperluas akses musik di luar ruang kelas, jaringan perpustakaan kita dapat membantu memastikan bahwa anak-anak dan kaum muda dari berbagai komunitas di Inggris memiliki kesempatan untuk terlibat dengan musik, terlepas dari di mana mereka tinggal," ujarnya. ESF akan berperan sebagai mitra perancang program, menghubungkan pemerintah, perpustakaan, guru musik, klub pemuda, dan industri musik untuk memaksimalkan dampak.
Bagi Indonesia, program ini menawarkan pelajaran berharga. Perpustakaan umum di Indonesia juga tersebar luas, namun pemanfaatannya untuk kegiatan kreatif masih terbatas. Model kemitraan antara figur publik, yayasan, dan pemerintah seperti yang dilakukan Sheeran bisa menjadi inspirasi untuk meningkatkan literasi musik dan kesenian di tanah air. Apalagi, minat terhadap musik di kalangan anak muda Indonesia sangat tinggi, namun akses terhadap peralatan dan pendidikan musik masih timpang, terutama di daerah.
Ke depan, keberhasilan program Music in Libraries akan bergantung pada partisipasi aktif otoritas perpustakaan dan kualitas peralatan yang disediakan. Pertanyaan besarnya: mampukah model ini direplikasi di negara lain, termasuk Indonesia, dengan melibatkan figur publik lokal dan skema pendanaan kreatif?



