Grup Djarum Kembali Menggenggam: Protelindo Kuasai 51% Saham DATA, iForte Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Protelindo, entitas Grup Djarum, mengakuisisi 51% saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) pada 13 Juli 2026, menggusur iForte sebagai pengendali.
- iForte, anak usaha TOWR, melepas seluruh 40% sahamnya di DATA, menandai perubahan strategi kepemilikan di sektor menara telekomunikasi.
- Akuisisi ini memperkuat dominasi Grup Djarum di infrastruktur telekomunikasi Indonesia, dengan implikasi pada persaingan industri dan konsolidasi aset.

Peta kepemilikan di industri menara telekomunikasi Indonesia kembali bergeser. PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), bagian dari Grup Djarum, resmi menguasai 51% saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) setelah mengakuisisi lebih dari 701 juta lembar saham dalam dua transaksi pada 13 Juli 2026. Langkah ini sekaligus menyingkirkan PT iForte Solusi Infotek, anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yang sebelumnya memegang kendali atas emiten tersebut.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, iForte menjual seluruh 550.000.900 sahamnya di DATA dengan harga Rp974 per saham. Transaksi ini mengakhiri kepemilikan iForte yang baru dimulai pada Desember 2024, saat mereka mengakuisisi 40% saham DATA dari Verah Wahyudi Singgih Wong dan Jimmi Anka. Kini, iForte tidak lagi memiliki hak suara di perusahaan tersebut.
Di sisi lain, Protelindo melakukan pembelian dalam dua tahap. Pertama, membeli 151.250.000 saham dari Verah Wahyudi Singgih dengan harga Rp1.091 per saham untuk tujuan investasi. Kedua, mengakuisisi 550.000.900 saham yang dilepas iForte dengan harga Rp974 per saham. Total kepemilikan Protelindo mencapai 701.250.900 saham, setara 51% hak suara, menjadikannya pengendali baru DATA. Dalam keterbukaan informasi, manajemen Protelindo menyatakan akan mempertahankan kendali tersebut.
Langkah ini menunjukkan konsolidasi aset di dalam Grup Djarum. Protelindo dan TOWR sama-sama berada di bawah kendali keluarga Hartono melalui PT Sapta Adhikari Investama dan PT Dwimuria Investama Andalan. Namun, dengan akuisisi ini, Grup Djarum seolah memilih untuk memperkuat Protelindo sebagai ujung tombak bisnis menara, sementara TOWR melalui iForte mundur dari DATA. Analis menilai hal ini bisa menjadi sinyal fokus ulang portofolio di tengah persaingan ketat dengan pemain seperti PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT).
Bagi investor di pasar modal Indonesia, pergerakan ini menggarisbawahi dinamika kepemilikan di sektor infrastruktur telekomunikasi yang terus bergolak. Akuisisi Protelindo tidak hanya mengubah kendali DATA, tetapi juga berpotensi memicu efisiensi operasional dan sinergi antar-entitas Grup Djarum. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah langkah serupa akan terjadi pada emiten lain di portofolio grup, atau justru sebaliknya, ada pelepasan aset lebih lanjut.
Ke depan, pasar akan mencermati bagaimana Protelindo mengelola DATA setelah resmi menjadi pengendali. Integrasi bisnis dan potensi penawaran tender wajib (mandatory tender offer) kepada pemegang saham minoritas menjadi isu yang patut diikuti. Dengan penguasaan 51%, Protelindo memiliki kendali penuh atas arah strategis DATA, termasuk kemungkinan merger atau ekspansi ke segmen fiber optik dan data center yang tengah naik daun.



