Natalie Imbruglia Sebut ADHD dan OCD sebagai 'Superpower' di Usia Paruh Baya
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Torn itu mengungkap diagnosis ADHD dan OCD di usia 51 tahun, yang justru ia anggap sebagai kelebihan unik.
- Perimenopause memperburuk gejala kecemasan panggung, namun ia kini mengelola kondisinya dengan terapi hormon.
- Pengalaman IVF sebagai ibu tunggal juga dibagikannya, menepis anggapan bahwa ia sengaja memilih tanpa pasangan.

Natalie Imbruglia, penyanyi dan aktris kelahiran Australia yang kini berusia 51 tahun, secara terbuka menyebut diagnosis attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan obsessive compulsive disorder (OCD) yang diterimanya di usia paruh baya sebagai "superpower". Dalam wawancara terbaru dengan The Sunday Times, ia menegaskan bahwa label medis itu tidak perlu dipandang negatif, melainkan sebagai bagian dari keunikan dirinya.
Pelantun hit global "Torn" itu mengaku bahwa perimenopause—masa transisi menuju menopause—justru memperparah gejala neurodiversitas yang ia alami, terutama saat menghadapi demam panggung. "Ada satu hal tentang neurodiversitas saya yang sulit diterima, yaitu bagaimana saya bereaksi ketika gugup sebelum pertunjukan. Perimenopause membuatnya lebih buruk," ujar Natalie. Ia menggambarkan masa itu sebagai "proses berduka" yang membuatnya marah dan merasa kehilangan sebagian kepribadiannya.
Untuk mengelola gejala, Natalie kini menggunakan krim terapi hormon (HRT) dan mengaku terbantu setelah berbicara dengan aktivis menopause Davina McCall. Ia juga menyambut baik perubahan sosial yang membuat diskusi tentang menopause tidak lagi dianggap tabu. "Dulu rasanya memalukan, sekarang orang lebih terbuka," katanya.
Selain soal kesehatan mental, Natalie juga blak-blakan mengenai perjalanannya menjadi ibu tunggal melalui program bayi tabung (IVF). Ia menolak keras anggapan bahwa ia sengaja memilih menjadi orang tua tanpa pasangan. "Itu benar-benar omong kosong. Bukan soal 'saya tidak butuh pria'," tegasnya. Menurut Natalie, keputusan itu lahir dari situasi biologis yang mendesak. "Kita punya jam biologis, dan keputusan harus diambil. Syukurlah ada teknologi yang memungkinkan pilihan itu," tambahnya.
Ia menggambarkan proses IVF sebagai "cukup brutal" dan mendorong perempuan yang menjalani perawatan serupa untuk mencari informasi sebanyak mungkin. "Ada banyak trauma yang bisa dihindari jika kita saling berbagi," ujarnya. Natalie pun mengaku masih terharu ketika mengingat momen mengetahui dirinya hamil, terutama memikirkan perempuan lain yang masih menanti.
Bagi publik Indonesia, pengakuan Natalie Imbruglia membuka percakapan tentang kesehatan mental dan menopause yang masih jarang dibahas secara terbuka di Tanah Air. Di tengah meningkatnya kesadaran akan neurodiversitas, kisahnya menjadi pengingat bahwa diagnosis bukanlah akhir, melainkan awal dari pemahaman diri yang lebih dalam. Pertanyaannya, akankah tokoh publik Indonesia mulai berani berbagi pengalaman serupa untuk mendobrak stigma?



