Gillman Barracks: Pusat Seni Singapura Tutup 2030, Diganti Perumahan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura memastikan kawasan seni Gillman Barracks akan dialihfungsikan menjadi perumahan, dengan sewa tenant berakhir bertahap hingga 2030.
- Para tenant mengaku kecewa karena investasi dan ekosistem seni yang telah terbangun selama bertahun-tahun harus berakhir, meski ada upaya mempertahankan sebagian bangunan bersejarah.
- Nasib pusat seni serupa di Indonesia patut menjadi perhatian, mengingat tantangan serupa dalam menjaga ruang kreatif di tengah tekanan pembangunan properti.

Kepastian bahwa Gillman Barracks, kawasan seni dan gaya hidup di Singapura, akan berubah menjadi perumahan pada 2030 membuat para tenant harus menerima kenyataan pahit: ekosistem kreatif yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade akan lenyap. Pengumuman resmi dari Otoritas Perumahan dan Pembangunan (HDB) pada Jumat (10/7) menegaskan bahwa lahan seluas 40 hektar itu akan disulap menjadi lingkungan tempat tinggal baru, setelah melalui kajian lingkungan dan warisan budaya.
Bagi para pelaku usaha di Gillman Barracks, kabar ini bukanlah kejutan. Sejak awal mereka tahu bahwa masa sewa akan berakhir pada 2030. Namun, harapan sempat menguat setelah pemerintah melakukan studi selama dua tahun. "Kami pikir, dengan ekosistem dan nilai sejarah yang ada, plus klaster seni, mungkin mereka akan berubah pikiran," ujar Jan Pek, pemilik Handlebar, bar yang telah beroperasi sejak 1999. Sayang, harapan itu pupus.
Gillman Barracks dibangun pada 1935 sebagai garnisun militer Inggris, lalu dialihfungsikan menjadi pusat seni pada 2012. Kini, tempat itu menjadi rumah bagi galeri seni, bar, restoran, dan bisnis gaya hidup. HDB berencana mempertahankan empat klaster bangunan yang dianggap paling signifikan secara historis dan arsitektural, namun setidaknya 10 hektar hutan akan dibuka. Bangunan yang dipertahankan bisa dialihfungsikan untuk fasilitas komersial bagi penghuni masa depan.
Para tenant kini dihadapkan pada dilema: bertahan hingga akhir atau menyerah lebih awal. Roger Yip, salah satu pendiri Hopscotch bar, mengaku akan memperpanjang sewa jika diberi kesempatan, meski kontraknya berakhir 2028. "Dari pertama kali kami menginjakkan kaki di Gillman Barracks, tempat ini selalu memberikan nuansa seperti di luar Singapura. Ini juga yang membantu bisnis kami melesat," katanya. Sementara itu, Ewan Wong dari byDIDI mengkhawatirkan kerugian investasi besar yang telah ditanamkan. "Kami sudah memperkirakan kerugian 30-40 persen karena waktu yang dipersingkat," ujarnya.
Tak hanya soal bisnis, komunitas seni yang terbangun juga terancam bubar. Theresia Irma, manajer umum Mizuma Gallery, menceritakan bahwa dulu orang enggan masuk galeri, namun kini semakin banyak keluarga dan anak muda yang datang pada akhir pekan. "Saya bertanya-tanya, apakah kita bisa memiliki tempat seperti ini lagi di masa depan?" ujarnya. Colin Wan dari Art Outreach menyebut Gillman Barracks sebagai salah satu klaster seni visual khusus di Singapura. Ia kesulitan mencari lokasi alternatif yang terjangkau dan aksesibel.
Bagi Indonesia, kisah Gillman Barracks menjadi pengingat akan kerentanan ruang kreatif di tengah tekanan pembangunan. Di Jakarta, misalnya, kawasan seperti Kemang atau Blok M sempat menjadi pusat seni dan budaya, namun perlahan tergerus alih fungsi lahan menjadi properti komersial. Tanpa dukungan kebijakan yang jelas, ekosistem seni kerap menjadi korban pembangunan. Pertanyaannya, apakah pemerintah dan pengembang di Indonesia bisa belajar dari Singapura untuk menyeimbangkan antara pelestarian budaya dan kebutuhan hunian?
Otoritas Singapura berjanji akan terus berinteraksi dengan para tenant dan memfasilitasi penggunaan jangka pendek unit kosong hingga 2029. Namun, bagi Stephanie Fong, pendiri FOST Gallery, yang terpenting adalah menikmati sisa waktu yang ada. "Saya mendorong lebih banyak orang untuk datang, menikmati area hijau, mengunjungi galeri, dan menjelajahi hutan di belakang kami, sebelum semua ini hanya tinggal kenangan," ujarnya. Dengan Singapore Gallery Month yang akan menjadikan Gillman Barracks sebagai pusat pada Agustus mendatang, mungkin ini adalah kesempatan terakhir bagi publik untuk merasakan denyut nadi klaster seni yang unik ini.



