Pengiriman Ponsel Global Anjlok ke Level Terendah dalam 13 Tahun, Harga Diprediksi Terus Naik
Baca dalam 60 detik
- Counterpoint Research mencatat penurunan 11% pengiriman ponsel global pada kuartal II-2025, level terendah sejak 2013 akibat krisis chip memori.
- Apple justru mencatat pertumbuhan 3% dengan pangsa pasar 20%, sementara Samsung memimpin dengan 24% berkat seri Galaxy S26.
- Krisis chip memori diperkirakan berlangsung hingga 2027, mendorong kenaikan harga ponsel entry-level hingga mid-range yang banyak beredar di Indonesia.

Pengiriman ponsel pintar global pada kuartal II-2025 merosot 11% dibanding periode yang sama tahun lalu, mencapai titik terendah untuk kuartal tersebut sejak 2013. Lembaga riset Counterpoint Research dalam laporan awalnya menyebut krisis pasokan chip memori yang berkepanjangan sebagai biang keladi, mendorong harga ponsel naik dan permintaan lesu.
Di tengah pelemahan pasar secara umum, Apple justru mencatat pertumbuhan pengiriman sebesar 3% dan berhasil merebut pangsa pasar global 20%, tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Kesuksesan ini ditopang oleh permintaan kuat terhadap lini iPhone premium yang harganya tidak berubah. Namun, analis memperkirakan Apple akan menaikkan harga dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan terus melonjaknya biaya komponen.
Samsung kembali merebut posisi puncak dengan pangsa 24%, didorong oleh penjualan seri flagship Galaxy S26 yang solid, ketersediaan produk yang lebih baik, serta kenaikan harga yang lebih moderat di pasar-pasar seperti India dan Timur Tengah. Sebaliknya, tiga produsen asal China—Xiaomi, Oppo, dan Vivo—mengalami penurunan pengiriman paling tajam di antara lima besar, karena portofolio mereka sangat bergantung pada perangkat entry-level dan mid-range yang paling terpukul oleh kenaikan harga.
Krisis chip memori yang memicu kenaikan harga ini berakar dari pergeseran prioritas pemasok. Perusahaan semikonduktor kini lebih mengutamakan pelanggan pusat data kecerdasan buatan (AI) ketimbang sektor elektronik konsumen, sehingga pasokan untuk ponsel pintar menyusut. Produsen ponsel pun terpaksa membebankan kenaikan biaya komponen kepada konsumen, terutama pada perangkat kelas bawah dan menengah yang marginnya tipis.
Bagi Indonesia, tren ini membawa implikasi langsung. Pasar ponsel tanah air didominasi oleh perangkat entry-level dan mid-range, yang harganya paling sensitif terhadap fluktuasi komponen. Kenaikan harga ponsel berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperlambat adopsi perangkat baru, terutama di segmen konsumen muda dan kelas menengah bawah. Sementara itu, merek-merek China yang menjadi pemain utama di Indonesia—seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo—justru paling terpukul secara global, yang bisa berdampak pada strategi harga dan ketersediaan produk di pasar lokal.
Counterpoint Research memperkirakan pengiriman ponsel global sepanjang tahun 2025 akan turun sekitar 14%, dan krisis memori diperkirakan baru akan mereda pada 2027. Pertanyaannya, akankah produsen seperti Samsung dan Apple mampu mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat, atau justru konsumen yang akan semakin menunda pembelian ponsel baru?



