Bakteri Usus 'Baik' Justru Tingkatkan Risiko Diabetes? Temuan Studi Swedia
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 4.685 orang Swedia menemukan sembilan spesies bakteri usus yang terkait dengan risiko diabetes tipe 2, termasuk Akkermansia muciniphila yang selama ini dianggap menguntungkan.
- Kadar tinggi A. muciniphila pada individu dengan asupan serat rendah justru meningkatkan risiko, diduga karena bakteri ini beralih mengikis lapisan mukosa usus.
- Temuan ini membuka peluang skrining dini diabetes lewat analisis mikrobioma, namun masih perlu validasi pada populasi lebih luas sebelum diterapkan secara klinis.

Analisis sampel tinja dari ribuan orang dewasa di Swedia mengungkap bahwa perubahan komposisi bakteri usus dapat menjadi sinyal peringatan dini diabetes tipe 2, bahkan bertahun-tahun sebelum gejala klinis muncul. Studi yang dipublikasikan di jurnal Cell Reports Medicine ini menemukan bahwa beberapa spesies bakteri yang selama ini dianggap 'baik' justru berkaitan dengan risiko lebih tinggi jika pola makan tidak mendukung.
Peneliti dari Chalmers University of Technology, Swedia, melibatkan 4.685 partisipan dalam studi prospektif selama rata-rata lima tahun. Sebanyak 383 orang di antaranya kemudian didiagnosis diabetes tipe 2. Dengan membandingkan mikrobioma usus mereka sejak awal studi, tim menemukan sembilan spesies bakteri yang berbeda secara signifikan antara kelompok yang sakit dan yang tetap sehat. Enam spesies dikaitkan dengan peningkatan risiko, sementara tiga spesies lainnya justru protektif.
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah peran Akkermansia muciniphila, bakteri yang selama ini dipuji karena kaitannya dengan metabolisme yang sehat. Partisipan yang kemudian mengidap diabetes ternyata memiliki kadar A. muciniphila lebih tinggi. Peneliti menduga bahwa perilaku bakteri ini bergantung pada ketersediaan serat makanan. Bila asupan serat rendah, A. muciniphila beralih dari mengonsumsi serat menjadi menggerogoti lapisan mukosa pelindung usus, yang dapat memicu peradangan dan resistensi insulin.
Peneliti utama, Rikard Landberg, menekankan bahwa temuan ini belum siap diterapkan dalam praktik klinis. "Mikrobioma bisa memberikan informasi biologis tambahan yang melengkapi faktor risiko tradisional, seperti gula darah, berat badan, dan riwayat keluarga. Namun, sebelum digunakan secara klinis, temuan perlu direplikasi pada populasi yang beragam, metode standar perlu dikembangkan, dan kita harus membuktikan bahwa prediksi berbasis mikrobioma meningkatkan pengambilan keputusan klinis di luar alat yang sudah ada," ujarnya.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi diabetes yang terus meningkat. Data International Diabetes Federation menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak. Pola makan masyarakat yang cenderung tinggi karbohidrat olahan dan rendah serat dapat memperburuk profil mikrobioma usus. Studi ini menegaskan pentingnya konsumsi serat dari sayur, buah, dan biji-bijian utuh untuk menjaga keseimbangan bakteri usus.
Peneliti pascadoktoral Gaรซl Toubon menambahkan, "Dalam studi kami, Akkermansia muciniphila dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi terutama pada orang dengan asupan serat rendah. Hubungan ini jauh lebih lemah pada mereka yang mengonsumsi lebih banyak serat. Ini menunjukkan bahwa pola makan dapat memodifikasi bagaimana mikroba usus berhubungan dengan kesehatan."
Meski hasil studi ini menjanjikan, para ilmuwan mengingatkan bahwa penelitian bersifat observasional sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba pada populasi yang lebih luas dan beragam secara etnis dan geografis. Jika terbukti, analisis mikrobioma usus dapat menjadi alat skrining non-invasif yang melengkapi pemeriksaan gula darah rutin, memungkinkan intervensi dini yang lebih personal.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah dalam satu dekade ke depan, tes tinja menjadi bagian dari paket medical check-up standar untuk deteksi diabetes? Atau justru rekomendasi diet tinggi serat yang sudah ada kini mendapat justifikasi ilmiah yang lebih kuat dari sudut pandang mikrobioma?



