Sopir Bus Asing Pertama di Shikoku Mulai Bertugas, Solusi Krisis Tenaga Kerja Jepang
Baca dalam 60 detik
- Dua warga Vietnam menjadi sopir bus asing pertama di wilayah Shikoku, Jepang, mulai bertugas akhir Juni di bawah sistem Specified Skilled Worker.
- Langkah ini diambil untuk mengatasi kekurangan 36.000 sopir bus yang diperkirakan terjadi pada 2030 di Jepang, seiring menurunnya jumlah pengemudi lokal.
- Program ini membuka peluang bagi tenaga kerja asing di sektor transportasi, dengan implikasi bagi negara lain yang menghadapi masalah serupa, termasuk Indonesia.

Dua pengemudi asal Vietnam resmi menjadi sopir bus asing pertama di wilayah Shikoku, Jepang, setelah memulai tugas reguler pada akhir Juni lalu. Kehadiran mereka di bawah skema Specified Skilled Worker menjadi angin segar bagi industri transportasi umum yang terhantam krisis kekurangan tenaga kerja.
Vo Van Hieu, 43 tahun, dan Ho Van Quy, 33 tahun, bergabung dengan perusahaan bus Iyotetsu Bus yang berbasis di Matsuyama pada September 2025. Setelah melalui proses perizinan kendaraan niaga besar serta pelatihan layanan pelanggan dan teknik mengemudi, keduanya mulai mengemudikan sejumlah rute pada 25 Juni. Pada 3 Juli, mereka melakukan kunjungan resmi ke kantor Pemerintah Prefektur Ehime bersama Presiden Iyotetsu Group, Ichiro Shimizu, dan mendapatkan dukungan langsung dari Gubernur Tokihiro Nakamura.
Langkah ini merupakan respons atas krisis kekurangan sopir bus yang meluas di Jepang. Menurut perkiraan Nihon Bus Association yang berbasis di Tokyo, Jepang diperkirakan kekurangan 36.000 sopir bus pada tahun 2030. Iyotetsu Bus sendiri telah memangkas rute dan mengurangi layanan akibat menurunnya jumlah penumpang pasca-pandemi serta berkurangnya jumlah pengemudi. Meskipun perusahaan telah menaikkan gaji sopir rata-rata lebih dari 7% selama tiga tahun berturut-turut, upaya tersebut belum mampu menghentikan penurunan jumlah pengemudi.
Program Specified Skilled Worker Jepang memiliki dua jenis status: tipe (i) yang memungkinkan bekerja hingga lima tahun, dan tipe (ii) yang memberikan izin kerja tanpa batas waktu serta memungkinkan membawa keluarga. Pada Maret 2024, pemerintah memasukkan sektor "usaha transportasi mobil", termasuk sopir bus, ke dalam cakupan tipe (i), sehingga perusahaan dapat mempekerjakan pengemudi asing. Hingga Desember 2025, tercatat 12 pengemudi asing dengan status ini, menurut Badan Imigrasi Jepang.
Hieu dan Quy sebelumnya pernah datang ke Jepang sebagai peserta pelatihan teknis (technical intern trainees) dan sudah fasih berbahasa Jepang untuk percakapan sehari-hari. Di depo bus, mereka terus belajar bahasa Jepang sambil berinteraksi dengan rekan kerja. Quy, yang berasal dari kota pelabuhan Quy Nhon di Vietnam tengah, mengaku menyukai kawasan pesisir Horie di Matsuyama yang dilalui rutenya. "Saya gugup di hari pertama, tapi perlahan-lahan terbiasa. Saya berusaha berhenti di posisi yang memudahkan penumpang naik," ujarnya. Sementara Hieu menambahkan, "Saya membiasakan diri mengemudi dengan sopan, seperti memberi jalan, dan kini lebih percaya diri. Saya ingin bekerja keras agar dipercaya mengemudikan bus jalan tol dan bus sewaan."
Konteks Indonesia: Krisis serupa juga mengancam sektor transportasi umum di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana kekurangan sopir bus Transjakarta dan angkutan umum lainnya kerap dikeluhkan. Program serupa bisa menjadi referensi bagi pemerintah Indonesia untuk membuka keran tenaga kerja asing terampil di sektor transportasi, meskipun harus diimbangi dengan perlindungan tenaga kerja lokal. Langkah Jepang ini juga menunjukkan bahwa adopsi tenaga kerja asing dapat menjadi solusi jangka pendek yang efektif, namun perlu diiringi perbaikan kondisi kerja dan upah agar menarik minat generasi muda.
Ke depan, keberhasilan Hieu dan Quy akan menjadi uji coba bagi perluasan program ini di Jepang. Apakah perusahaan bus lain akan mengikuti jejak Iyotetsu? Atau justru muncul resistensi dari serikat pekerja? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah solusi impor tenaga kerja mampu menjawab krisis demografis yang semakin mendalam di Negeri Sakura.



