Misteri Kematian Muse Botticelli Terkuak: Bukan TBC, Melainkan Tumor Otak
Baca dalam 60 detik
- Analisis medis forensik terhadap lukisan Botticelli mengungkap perubahan wajah Simonetta Vespucci yang konsisten dengan tumor hipofisis.
- Kematian mendadak sang model pada usia 23 tahun diduga akibat perdarahan tumor, bukan tuberkulosis seperti yang dipercaya selama berabad-abad.
- Temuan ini membuka peluang kolaborasi antara sejarah seni dan endokrinologi untuk memecahkan teka-teki medis masa lalu.

Selama lebih dari lima abad, kematian Simonetta Vespucci—muse sekaligus model ikonik lukisan Venus karya Sandro Botticelli—diyakini akibat tuberkulosis. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Endocrinology, Diabetes and Metabolism mengguncang keyakinan itu: perempuan muda yang meninggal di usia 23 tahun pada 1476 itu kemungkinan besar menjadi korban tumor otak langka yang mengalami perdarahan mendadak.
Tim peneliti yang dipimpin oleh seorang ahli endokrinologi dari University of Pisa, Italia, membandingkan perubahan fisik yang terekam dalam beberapa lukisan Botticelli dari tahun 1470-an hingga lukisan anumerta Kelahiran Venus (1482–1485). Mereka menemukan perubahan halus pada rahang, alis, dan jaringan wajah Simonetta dari satu kanvas ke kanvas lainnya—pola yang lazim ditemukan pada pasien dengan adenoma hipofisis, tumor jinak di kelenjar pituitari yang mengontrol produksi hormon.
Dalam studi sebelumnya pada 2019, tim yang sama menduga tumor tersebut mensekresi hormon pertumbuhan dan prolaktin secara berlebihan. Kelebihan hormon ini tidak hanya mengubah kontur wajah, tetapi juga dapat menyebabkan laktasi tanpa sebab—dan satu figur alegoris dalam karya Botticelli tampaknya menggambarkan gejala tersebut. Kini, bukti baru memperkuat hipotesis bahwa kematian Simonetta disebabkan oleh apopleksi tumor hipofisis, kondisi darurat ketika tumor mendadak berdarah atau membengkak.
Apopleksi tumor hipofisis biasanya diawali dengan sakit kepala hebat yang tiba-tiba, kehilangan penglihatan, kebingungan, dan penurunan kesadaran cepat akibat kolapsnya regulasi hormon tubuh. Gejala ini persis seperti yang tercatat dalam surat-surat antara Piero Vespucci dan Lorenzo de' Medici, yang menggambarkan Simonetta pingsan saat dansa di pesta, lalu mengalami sakit kepala, halusinasi, muntah, dan demam sebelum akhirnya meninggal. Tuberkulosis, sebagai infeksi kronis, biasanya menyebabkan penurunan kondisi yang lebih lambat dan bertahap—sangat kontras dengan kisah kematian Simonetta yang dramatis dan cepat.
Peneliti juga mengidentifikasi dua peristiwa yang mungkin memicu perdarahan tumor: pingsan saat berdansa berat di pesta dansa, dan dugaan kekerasan fisik yang dialami Simonetta dari Alfonso II dari Aragon, Adipati Calabria, beberapa bulan sebelum kematiannya. Kedua kejadian ini bisa menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial yang memicu ruptur tumor.
Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa tanpa sampel jaringan atau pemindaian medis, kepastian mutlak tidak mungkin dicapai. "Tidak ada bukti langsung dari abad ke-15—hanya lukisan, surat, dan penalaran klinis yang diterapkan lima abad kemudian," tulis mereka. Namun, kombinasi antara perubahan wajah yang progresif dan gejala kematian yang mendadak memberikan narasi yang lebih koheren dibandingkan diagnosis tuberkulosis yang selama ini diterima begitu saja.
Bagi Indonesia, studi ini menyoroti potensi besar pendekatan multidisiplin dalam mengungkap misteri sejarah. Di Nusantara, banyak tokoh sejarah yang kematiannya masih diselimuti teka-teki medis—misalnya, kematian mendadak Sultan Agung atau Pangeran Diponegoro yang sering dikaitkan dengan racun atau penyakit misterius. Metode serupa—menganalisis lukisan, patung, atau catatan medis kuno—bisa membuka tabir penyebab kematian mereka. Kolaborasi antara sejarawan, arkeolog, dan dokter forensik di Indonesia masih jarang, padahal potensinya besar untuk memperkaya pemahaman kita tentang masa lalu.
Ke depan, tim peneliti berharap studi ini mendorong para ahli sejarah dan medis untuk meninjau kembali kasus-kasus serupa. "Pengetahuan medis kadang bisa menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh catatan sejarah murni. Dan sebaliknya, teka-teki sejarah bisa mendorong dunia kedokteran untuk berpikir secara berbeda tentang bagaimana penyakit berkembang dalam tubuh seiring waktu," ujar ketua tim peneliti. Pertanyaan yang kini mengemuka: berapa banyak lagi misteri medis dari masa lalu yang menunggu untuk dipecahkan dengan pendekatan serupa?



