Sonam Wangchuk di Ambang Bahaya: 16 Hari Mogok Makan, Berat Turun 8,2 Kg
Baca dalam 60 detik
- Aktivis pendidikan Sonam Wangchuk kehilangan 8,2 kg setelah 16 hari mogok makan di Delhi, memicu kekhawatiran massal.
- Aksi ini menuntut mundurnya Menteri Pendidikan India menyusul kebocoran soal ujian masuk dokter yang memicu pembatalan ujian.
- Pendukung berencana longmarch ke parlemen pada 20 Juli jika pemerintah tetap mengabaikan dialog.

Sonam Wangchuk, aktivis pendidikan dan ikon perubahan iklim asal Ladakh, berada dalam kondisi kritis setelah 16 hari menjalani mogok makan tanpa batas waktu di Delhi. Berat badannya turun 8,2 kilogram, tekanan darah merosot ke 107/70, dan kadar gula darahnya anjlok hingga 67 mg/dL—angka yang membuat para dokter dan pendukungnya cemas.
Aksi yang berpusat di Jantar Mantar, lokasi protes bersejarah di ibu kota India, digagas oleh gerakan satir daring bernama Cockroach Janta Party (CJP). Mereka mendesak Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan untuk bertanggung jawab secara moral atas kebocoran soal ujian masuk kedokteran pada awal Mei lalu, yang memaksa pembatalan ujian nasional. Pradhan menolak mundur dan menyebut CJP sebagai "tim B dari elemen pengganggu" yang tidak percaya pada kemajuan negara.
Wangchuk, 59 tahun, bergabung dengan protes pada 29 Juni dan memulai mogok makan tanpa batas. Ia menyebut dirinya pengikut Mahatma Gandhi dan menggunakan metode non-kekerasan untuk "membangunkan hati nurani pemerintah". Namun, kondisi fisiknya terus memburuk. Abhijeet Dipke, pendiri CJP, mengungkapkan bahwa Wangchuk kesulitan berjalan ke kamar mandi dan sering pusing saat berdiri. "Setiap kali saya memintanya mengakhiri mogok, dia memarahi saya dan berkata jangan khawatirkan dia," ujar Dipke.
Wangchuk bukan sekadar aktivis biasa. Penerima Ramon Magsaysay Award 2018 ini dikenal luas sebagai penemu "ice stupa"—glacier buatan berbentuk stupa yang menyimpan air untuk petani di Ladakh. Ia juga menjadi inspirasi tokoh dalam film Bollywood Three Idiots (2009) dan pernah tampil di Kaun Banega Crorepati. Tahun lalu, ia ditahan 170 hari atas tuduhan menghasut protes, yang kemudian dibatalkan.
Ratusan orang tetap bertahan di Jantar Mantar meskipun suhu mencapai 46°C. Mereka khawatir Wangchuk tidak akan bertahan lama. Animesh Sahu, insinyur dari Hyderabad, mengaku tumbuh dengan menonton video Wangchuk dan merasa terikat secara emosional. "Pemerintah harus memperhatikannya," katanya. Profesor Nandita Narain, seorang pendidik, menyesalkan bahwa tokoh sekaliber Wangchuk harus mogok makan untuk didengar. "Kami butuh dia hidup untuk melanjutkan perjuangan," ujarnya.
Pemerintah India, khususnya partai berkuasa BJP, belum menunjukkan itikad berdialog. Dipke menyayangkan sikap ini. "Kami hanya meminta akuntabilitas, bukan jabatan menteri." Jika tidak ada respons, para pengunjuk rasa berencana melakukan longmarch ke parlemen pada 20 Juli, saat sidang dimulai. "Kami sudah duduk 24 hari, Wangchuk mogok 16 hari, tapi pemerintah tidak bergerak. Saatnya kami mendatangi mereka," tegas Dipke.
Bagi Indonesia, aksi Wangchuk mengingatkan pada pentingnya akuntabilitas sistem pendidikan dan dampak mogok makan sebagai alat protes. Di tengah hiruk-pikuk politik India, nasib Wangchuk menjadi ujian bagi komitmen pemerintah terhadap reformasi pendidikan—dan apakah dialog bisa tercipta sebelum nyawa melayang.



