Laba Operasional Korean Air Anjlok 34% Meski Pendapatan Cetak Rekor
Baca dalam 60 detik
- Korean Air mencatat laba operasional kuartal II sebesar 261,8 miliar won, merosot 34% dibanding periode sama tahun lalu akibat lonjakan biaya bahan bakar.
- Pendapatan kuartalan mencapai rekor 5,02 triliun won, ditopang pendapatan penumpang dan kargo yang masing-masing naik 19% dan 46%.
- Maskapai mengandalkan musim liburan dan segmen kargo berbasis AI untuk mempertahankan momentum pendapatan di semester II.

Korean Air Lines melaporkan penurunan laba operasional kuartal kedua sebesar 34 persen pada Senin (13/7), tertekan oleh kenaikan harga bahan bakar yang signifikan meskipun pendapatan perusahaan menembus rekor tertinggi. Kondisi ini menggambarkan tekanan biaya yang masih membayangi industri penerbangan global di tengah permintaan perjalanan yang pulih.
Maskapai nasional Korea Selatan itu mencatat laba operasional periode April-Juni sebesar 261,8 miliar won (sekitar Rp3 triliun), turun dari 398,9 miliar won pada kuartal kedua tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan melonjak 26 persen secara tahunan menjadi 5,02 triliun won, angka tertinggi yang pernah dicapai untuk kuartal kedua dalam sejarah perusahaan.
Pendapatan dari segmen penumpang naik sekitar 19 persen menjadi 2,85 triliun won, didorong oleh peningkatan wisatawan asing dan permintaan transit yang menguat. Menurut analis, faktor geopolitik di Timur Tengah turut mengalihkan arus perjalanan ke hub Asia, menguntungkan Korean Air. Namun, pertumbuhan ini sebagian terimbas oleh melemahnya perjalanan keluar dari Korea Selatan akibat harga minyak yang tinggi.
Di sisi kargo, pendapatan melesat 46 persen menjadi 1,54 triliun won. Lonjakan ini dipicu oleh permintaan kuat terkait investasi kecerdasan buatan (AI) global serta ekspor produk kecantikan Korea Selatan yang terus menggeliat. Kargo menjadi penopang utama di tengah margin penumpang yang tipis.
Bagi Indonesia, kinerja Korean Air relevan mengingat maskapai ini menjadi salah satu mitra utama penerbangan ke Asia Timur dan Amerika Serikat. Lonjakan biaya bahan bakar yang juga dialami maskapai domestik seperti Garuda Indonesia dan Lion Air dapat mempengaruhi harga tiket di rute internasional. Di sisi lain, permintaan kargo yang tinggi—terutama produk elektronik dan kecantikan—membuka peluang bagi eksportir Indonesia untuk memanfaatkan jalur distribusi yang sama.
Manajemen Korean Air optimistis permintaan penumpang akan pulih pada kuartal ketiga, ditopang oleh musim liburan puncak dan penurunan biaya tambahan bahan bakar. Maskapai juga akan fokus pada segmen kargo bernilai tinggi, terutama yang terkait dengan industri AI, untuk menjaga momentum pendapatan. Langkah ini menjadi strategi kunci di tengah ketidakpastian harga minyak global dan persaingan ketat di pasar penerbangan Asia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah maskapai lain akan mengikuti strategi serupa—mengandalkan kargo teknologi untuk mengompensasi margin penumpang yang tertekan—ataukah industri penerbangan harus bersiap menghadapi periode konsolidasi biaya yang lebih panjang.



