IHSG Melonjak 1,68% setelah S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 1,68% pada Senin (13/7/2026), didorong keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
- Lembaga pemeringkat tersebut menilai tekanan fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara, dengan potensi perbaikan dari harga komoditas dan reformasi tata kelola sumber daya alam.
- Meski IHSG menguat, investor asing masih mencatatkan net sell Rp274,8 miliar, menunjukkan sentimen asing yang bercampur terhadap prospek pasar saham domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 1,68% atau 99,47 poin ke level 6.023,83 pada perdagangan Senin (13/7/2026), mencatatkan lonjakan signifikan di tengah keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. Sebanyak 367 saham berhasil mencatatkan penguatan, sementara 282 saham melemah dan 316 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp10,38 triliun dari 23,08 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,59 juta kali transaksi.
Keputusan S&P yang dirilis pada 13 Juli 2026 menjadi katalis utama di balik penguatan IHSG. Dalam laporannya, S&P menegaskan peringkat jangka panjang Indonesia di BBB dan jangka pendek di A-2, dengan outlook tetap stabil. Lembaga tersebut mengakui adanya tekanan pada posisi fiskal dan eksternal Indonesia akibat tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, dan akumulasi utang. Namun, S&P menilai tekanan ini bersifat sementara dan berpotensi membaik seiring perbaikan harga komoditas serta langkah pemerintah mengendalikan belanja.
Analis pasar menilai keputusan S&P memberikan angin segar bagi investor di tengah kekhawatiran akan stabilitas ekonomi global. "Peringkat yang dipertahankan menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia, meskipun ada tantangan jangka pendek," ujar seorang analis dari Mirae Asset Sekuritas. Saham-saham emiten Bakrie, Prajogo Pangestu, dan Grup Sinar Mas menjadi pendorong utama kenaikan IHSG, mencerminkan optimisme sektor swasta terhadap prospek ekonomi ke depan.
Namun, di balik penguatan IHSG, investor asing masih melanjutkan aksi jual bersih. Data perdagangan sesi I menunjukkan net sell asing mencapai Rp274,8 miliar, dengan total nilai jual Rp1,7 triliun melampaui nilai beli Rp1,4 triliun. Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi yang paling banyak dilepas asing dengan estimasi net sell Rp110,4 miliar, diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp94,5 miliar dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp42,6 miliar. Di sisi lain, akumulasi asing terbesar terjadi pada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan net buy Rp70,7 miliar, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp40,5 miliar.
Konteks domestik menunjukkan bahwa tekanan eksternal seperti kenaikan suku bunga Federal Reserve dan pelemahan rupiah masih membayangi pasar Indonesia. Meski S&P optimistis, investor asing cenderung wait-and-see, terutama terkait implementasi reformasi tata kelola sumber daya alam yang disebut S&P dapat meningkatkan pendapatan negara dan ekspor. Bagi investor ritel Indonesia, keputusan S&P menjadi sinyal positif bahwa risiko kredit negara tetap terkendali, namun arus modal asing yang keluar perlu diwaspadai karena dapat mempengaruhi likuiditas pasar.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada langkah konkret pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sektor mineral dan batu bara, serta kemampuan menjaga defisit fiskal tetap terkendali. Apakah optimisme S&P akan diikuti oleh aksi beli asing yang lebih agresif, atau justru tekanan eksternal masih akan mendominasi? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan mendatang seiring rilis data ekonomi kuartal kedua.



