Boom Bungalow di Jepang: Harga Setara Rumah Dua Lantai, tapi Laris Manis
Baca dalam 60 detik
- Perumahan bungalow di Chiba, Jepang, ludes terjual meski dibanderol lebih mahal ketimbang rumah dua lantai di sekitarnya.
- Fenomena ini mencerminkan pergeseran preferensi hunian masyarakat Jepang yang mulai mengutamakan kenyamanan horizontal dan aksesibilitas.
- Tren serupa berpotensi muncul di Indonesia, terutama di kota-kota besar dengan lahan terbatas dan harga tanah yang terus meroket.

Di tengah hiruk-pikuk Tokyo yang padat vertikal, sebuah komunitas rumah tapak satu lantai di Chiba justru menjadi rebutan. Seluruh 50 unit bungalow di tahap pertama ludes terjual, dan 77 unit tambahan tengah dibangun di lahan bersebelahan. Padahal, harganya lebih mahal ketimbang rumah dua lantai di kawasan yang sama.
Fenomena ini bukan sekadar anomali properti. Menurut data pengembang, bungalow di dekat Stasiun JR Toke, Chiba—sekitar satu jam perjalanan kereta dari Stasiun Tokyo—dijual dengan harga premium. Namun, permintaan tetap tinggi. Para analis properti menilai bahwa perubahan gaya hidup pascapandemi menjadi pendorong utama. Masyarakat Jepang mulai meninggalkan rumah bertingkat yang dianggap kurang praktis bagi lansia dan keluarga dengan anak kecil.
“Bungalow menawarkan efisiensi ruang tanpa tangga, cocok untuk keluarga dengan balita atau lansia,” ujar seorang pengamat properti dari Universitas Tokyo, yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan, tren ini juga didorong oleh kenaikan biaya konstruksi yang membuat rumah dua lantai tak lagi jauh lebih murah.
Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat di kawasan penyangga Jakarta seperti BSD City atau Sentul. Pengembang properti mencatat peningkatan permintaan rumah tapak satu lantai, terutama dari kalangan milenial yang menginginkan hunian praktis dan mudah dirawat. Namun, keterbatasan lahan di pusat kota membuat harga bungalow di Indonesia bisa dua kali lipat lebih mahal dibanding rumah dua lantai di lokasi setara.
Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perumahan dan Permukiman (LP3) menilai bahwa tren bungalow di Jepang bisa menjadi referensi bagi pasar properti Indonesia. “Jika kebijakan tata ruang mendukung, pengembangan perumahan horizontal di daerah pinggiran bisa menjadi solusi keterjangkauan hunian,” katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa infrastruktur transportasi massal yang memadai menjadi syarat mutlak agar tren ini berkelanjutan.
Pertanyaan selanjutnya: apakah pengembang di Indonesia siap mengadopsi model bungalow premium dengan segala konsekuensi harga tanahnya? Atau justru akan muncul inovasi desain yang menekan biaya tanpa mengorbankan kenyamanan? Pasar akan menjawabnya dalam beberapa tahun ke depan.



