Live Action Moana: Sutradara Bela Sentuhan Realistis, Box Office Jeblok
Baca dalam 60 detik
- Thomas Kail menyebut versi live action Moana menghadirkan momen emosional yang lebih kuat berkat akting aktor sungguhan.
- Film ini menuai kritik dari penggemar dan kritikus sebagai 'tidak perlu', namun Kail tetap percaya pada pendekatan realistisnya.
- Dengan pendapatan akhir pekan hanya $43 juta dari target $60 juta, live action Moana terancam rugi besar setelah biaya produksi $250 juta.

Thomas Kail, sutradara di balik film live action Moana, bersikeras bahwa versi terbaru petualangan Polinesia ini menawarkan pengalaman yang jauh berbeda dari animasi aslinya. Menurut Kail, kehadiran aktor sungguhan—bukan gambar digital—membuat adegan-adegan emosional terasa lebih nyata dan menyentuh. Namun, di balik optimisme sang sutradara, kenyataan pahit menanti: film yang dibintangi Dwayne Johnson ini menuai kritik pedas dan pendapatan box office yang mengecewakan.
Bagi Kail, perbedaan utama terletak pada kekuatan akting manusia. Dalam wawancara dengan People, ia menjelaskan bahwa momen seperti perpisahan nenek Moana (diperankan Rena Owen) terasa lebih mengharukan karena penonton melihat ekspresi asli seorang aktris. “Ketika dua orang berbicara tatap muka, ada transfer energi yang kuat,” ujar Kail. Ia dan timnya mengaku tetap setia pada cerita asli, tetapi yakin bahwa medium live action membawa dimensi baru yang tak bisa ditiru animasi.
Namun, keyakinan itu tidak serta-merta diterima publik. Sejak trailer dirilis, banyak penggemar Disney yang mempertanyakan urgensi remake ini. Kritikus pun tak segan menyebutnya “suram” dan “tidak perlu”. Dalam menanggapi hujatan, Kail mengaku tidak membaca ulasan secara detail. “Saya cukup tahu inti percakapannya,” katanya kepada Variety. Ia lebih memilih fokus pada upaya menjangkau penonton melalui berbagai cara, bukan sekadar ulasan media.
Perbandingan dengan pendahulunya memang tak bisa dihindari. Moana versi animasi 2016 sukses besar dengan pendapatan global $643 juta, sementara sekuel animasi 2024 bahkan menembus $1 miliar. Live action ini hanya mampu mengumpulkan $43 juta di akhir pekan perdana—jauh dari ekspektasi. Dengan budget produksi $250 juta, film ini membutuhkan setidaknya $500 juta secara global untuk impas, target yang kini terasa berat.
Bagi penonton Indonesia, fenomena ini menarik dicermati. Pasar film Indonesia selama ini dikenal menyukai remake live action Disney—seperti The Lion King (2019) yang sukses besar. Namun, kegagalan Moana bisa menjadi sinyal bahwa penonton mulai jenuh dengan formula daur ulang. Apalagi, film ini tidak memiliki daya tarik nostalgia sekuat The Lion King atau Aladdin di mata penonton Tanah Air. Distributor lokal mungkin perlu mengatur strategi pemasaran yang lebih agresif jika ingin menarik minat.
Pertanyaan besarnya: apakah live action Moana akan menjadi titik balik bagi Disney untuk mengurangi produksi remake? Atau justru menjadi bukti bahwa kesuksesan film semacam itu bergantung pada sentuhan magis yang hanya bisa diberikan oleh animasi? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan, saat film ini mulai tayang di pasar internasional, termasuk Indonesia.



