Tokek Makin Betah di Permukiman: Adaptasi Cepat di Tengah Alih Fungsi Lahan
Baca dalam 60 detik
- Studi di Kepulauan Seribu menemukan 273 individu tokek dengan kepadatan 13,6 ekor per hektar, mayoritas menghuni dinding rumah dan tiang listrik.
- Lampu rumah yang menarik serangga malam menjadi sumber pakan utama, sementara celah bangunan menyediakan tempat berlindung dan berkembang biak.
- Peneliti menekankan pemantauan berkala penting untuk melihat dinamika populasi tokek sebagai indikator adaptasi satwa liar terhadap perubahan bentang alam.

Tokek, reptil yang kerap dianggap pengganggu karena suaranya yang nyaring, justru menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa di tengah pesatnya alih fungsi lahan di Indonesia. Sebuah riset terbaru di Kepulauan Seribu mengungkap bahwa spesies Gekko gecko ini justru lebih nyaman hidup di permukiman manusia ketimbang di habitat aslinya, hutan.
Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyusuri Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa untuk menguji anggapan tersebut. Hasilnya, dari pengamatan langsung tercatat 273 individu tokek, dengan estimasi total populasi di daratan Kepulauan Seribu mencapai 11.930 ekor. Kepadatan rata-rata 13,6 individu per hektar menunjukkan bahwa tokek mampu memanfaatkan setiap sudut lingkungan buatan manusia.
Menurut Muhammad Fakhri Fauzan, peneliti utama studi yang dimuat di Jurnal Biologi Indonesia pada 2022, hampir setiap tiang listrik yang mereka lewati ditempati tokek. Lubang pada tiang bahkan dimanfaatkan sebagai tempat bertelur. Perubahan bentang alam dari hutan menjadi permukiman ternyata tidak menghilangkan ruang hidup tokek, melainkan menciptakan habitat baru yang lebih menguntungkan.
Lampu-lampu rumah yang menyala di malam hari menjadi magnet bagi serangga seperti ngengat, laron, dan kumbang. Bagi tokek yang termasuk dalam CITES Apendiks II, kondisi ini menyediakan sumber pakan melimpah. Celah dinding, rongga atap, dan lubang tiang listrik menjadi tempat aman untuk beristirahat dan bereproduksi. Fakhri menambahkan, keberadaan tokek justru memberi manfaat ekologis dengan mengendalikan populasi serangga, termasuk kalajengking.
Pulau Pari mencatat jumlah tokek tertinggi dibanding dua pulau lain. Fakhri menduga hal ini terkait kombinasi habitat yang beragam, mulai dari permukiman, pepohonan, hingga tiang listrik. Sementara Pulau Untung Jawa memiliki populasi terendah, kemungkinan karena keterbatasan tempat berlindung yang sesuai. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketersediaan struktur buatan manusia sangat menentukan keberhasilan adaptasi tokek.
Amir Hamidy, profesor riset biosistematika dan evolusi BRIN, menjelaskan bahwa kemampuan adaptasi tokek didukung siklus hidup yang relatif cepat dibanding reptil lain. Laju pertumbuhan dan reproduksi yang tinggi memungkinkan populasinya bertahan meski lingkungan berubah. Namun, ia mengingatkan bahwa tokek rumah bukan spesies asli Indonesia. Analisis DNA menunjukkan pusat persebaran tokek berada di kawasan Indochina, terutama Thailand dan China selatan. Penyebarannya ke Indonesia kemungkinan besar dibantu aktivitas manusia, misalnya melalui perpindahan barang yang membawa telur.
Penelitian ini membuka perspektif baru bahwa tidak semua satwa liar kehilangan ruang hidup akibat pembangunan. Tokek menjadi contoh spesies yang justru diuntungkan oleh kehadiran manusia. Meski demikian, pemantauan populasi secara berkala tetap diperlukan untuk memahami dinamika jangka panjang. Pertanyaan yang muncul: apakah spesies lain yang lebih sensitif terhadap perubahan habitat bisa mengikuti jejak adaptasi tokek, atau justru akan semakin terdesak?



