Pemogokan Hyundai Berlanjut: Tuntutan Upah dan Bonus Tak Kunjung Sepakat
Baca dalam 60 detik
- Serikat pekerja Hyundai Motor memulai mogok kerja parsial tiga hari setelah negosiasi upah gagal, menghentikan produksi empat jam per hari.
- Kerugian diperkirakan mencapai 200 miliar won (sekitar Rp2,3 triliun) akibat penghentian lini perakitan, memperburuk tekanan di tengah transformasi industri otomotif.
- Kekhawatiran akan otomatisasi dan robotika menjadi latar belakang aksi ini, dengan rencana Hyundai menggunakan robot humanoid di pabrik AS pada 2028.

Serikat pekerja Hyundai Motor, produsen mobil terbesar Korea Selatan, resmi memulai aksi mogok kerja parsial selama tiga hari mulai Senin (13/7) setelah perundingan upah dengan manajemen menemui jalan buntu. Langkah ini menghentikan aktivitas produksi selama empat jam setiap harinya, memicu kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok dan target penjualan semester kedua.
Mogok kerja yang berlangsung hingga Rabu (15/7) ini melibatkan pekerja di lini perakitan, bagian penjualan, pemeliharaan, serta pusat penelitian dan pengembangan Namyang. Menurut perwakilan serikat pekerja, penghentian produksi dilakukan secara bergiliran—dua jam untuk shift siang dan dua jam untuk shift malam—guna memaksimalkan tekanan terhadap manajemen tanpa memutus total operasional pabrik.
Data dari Maeil Business Newspaper menunjukkan bahwa aksi ini berpotensi merugikan perusahaan hingga 200 miliar won, atau setara dengan sekitar 132 juta dolar AS. Jika dikonversi ke rupiah, angka tersebut mencapai lebih dari Rp2,3 triliun—sebuah pukulan telak di tengah upaya Hyundai membalikkan kinerja keuangan melalui peluncuran model-model baru pada paruh kedua tahun ini.
Negosiasi antara serikat pekerja dan manajemen Hyundai sebenarnya telah berlangsung sejak Mei lalu, namun lima putaran perundingan gagal menghasilkan kesepakatan. Putaran kelima yang berakhir pada 8 Juli menjadi titik kulminasi, mendorong serikat untuk mengambil tindakan industrial. Tuntutan utama pekerja meliputi kenaikan gaji pokok sebesar 149.600 won per bulan, bonus kinerja setara 30 persen dari laba bersih tahun lalu, bonus 800 persen, perpanjangan usia pensiun, serta pemulihan status pekerja yang dipecat.
Di sisi lain, manajemen hanya menawarkan kenaikan gaji pokok 89.000 won per bulan, bonus kinerja setara 350 persen dari gaji pokok ditambah 10 juta won, dan pemberian 15 saham perusahaan. Tawaran ini langsung ditolak serikat karena dinilai tidak sebanding dengan kontribusi pekerja dan tekanan biaya hidup yang meningkat.
Wakil Presiden Eksekutif Hyundai, Choi Yeong-il, dalam pernyataan kepada pekerja di pabrik Ulsan, mengungkapkan penyesalan mendalam atas pemogokan ini. Menurut laporan Yonhap, ia menekankan bahwa gangguan produksi tidak seharusnya terjadi saat perusahaan tengah berupaya membalikkan pendapatan melalui peluncuran model baru di semester kedua. Namun, serikat pekerja menilai bahwa manajemen justru mengabaikan kesejahteraan pekerja di tengah rencana ekspansi otomatisasi.
Aksi mogok ini juga mencerminkan keresahan yang lebih luas terhadap masa depan pekerjaan di era kecerdasan buatan dan robotika. Hyundai diketahui tengah bersiap mengimplementasikan robot humanoid seperti Atlas di pabrik-pabriknya di Amerika Serikat mulai 2028. Meski perusahaan belum mengumumkan rencana serupa untuk pabrik di Korea Selatan, para analis meyakini adopsi teknologi tersebut hanya masalah waktu. Serikat pekerja pun menuntut jaminan keamanan kerja di tengah transformasi digital yang kian masif.
“Kami akan memutuskan langkah industrial selanjutnya setelah mogok tiga hari ini berakhir,” ujar seorang pejabat serikat pekerja kepada AFP.
Bagi Indonesia, pemogokan Hyundai ini menjadi pengingat akan dinamika hubungan industrial di sektor manufaktur otomotif global. Sebagai salah satu pemain utama di pasar otomotif Tanah Air melalui Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI), keputusan yang diambil di Seoul dapat berdampak pada rantai pasok komponen dan harga kendaraan di dalam negeri. Apalagi, Hyundai tengah gencar mempromosikan model listrik Ioniq dan Kona di Indonesia, yang sebagian komponennya dipasok dari pabrik di Korea. Jika mogok berlarut, risiko keterlambatan pengiriman dan kenaikan biaya produksi bisa saja terjadi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah serikat pekerja dan manajemen mampu menemukan titik temu sebelum aksi meluas. Dengan tekanan dari dua sisi—tuntutan pekerja yang kuat dan kebutuhan perusahaan untuk tetap kompetitif di era elektrifikasi dan otomatisasi—jalan keluar yang saling menguntungkan tampaknya masih sulit diraih. Akankah mogok ini menjadi awal dari gelombang aksi serupa di industri otomotif global? Waktu yang akan menjawab.



