Bursa Tokyo Terjun Bebas: Aksi Ambil Untung Saham Teknologi dan Ketegangan AS-Iran Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei ambles 1,92% ke 67.242,73, dipicu aksi ambil untung di saham teknologi dan eskalasi konflik AS-Iran.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mendorong harga minyak naik, mengancam pasokan energi Jepang dan memicu inflasi.
- Ketidakpastian geopolitik dan musim laporan keuangan membuat investor terbelah antara optimisme AI dan kekhawatiran overheating.

Bursa saham Tokyo ditutup di zona merah pada Senin (14/7) setelah investor melakukan aksi ambil untung di saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, sementara ketidakpastian baru seputar perundingan AS-Iran untuk mengakhiri perang turut membebani sentimen pasar.
Indeks Nikkei 225 anjlok 1.315,00 poin atau 1,92 persen ke level 67.242,73, setelah sempat menyentuh penurunan lebih dari 2 persen. Indeks Topix yang lebih luas juga terkoreksi 28,59 poin atau 0,71 persen ke 4.007,49. Sektor yang paling tertekan meliputi peralatan listrik, logam non-besi, serta produk kaca dan keramik.
Pasar sempat dibuka menguat pada sesi pagi berkat kenaikan saham teknologi, namun berbalik melemah setelah aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran akhir pekan lalu memicu aksi jual. Para pialang menilai eskalasi tersebut mengubur harapan akan tercapainya kesepakatan damai dalam perang yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Tekanan tambahan datang dari lonjakan harga minyak menyusul pengumuman Teheran akan menutup Selat Hormuz. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan energi dan komoditas lain dari Timur Tengah, yang dapat mendorong inflasi di Jepang yang miskin sumber daya alam.
Menurut Maki Sawada, analis strategi di Nomura Securities, investor masih terbelah mengenai prospek saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Sebagian khawatir terjadi overheating, sementara yang lain optimistis pertumbuhan masih berlanjut. "Dengan minimnya katalis perdagangan menjelang musim laporan keuangan, pasar rentan terhadap pergerakan volatil," ujarnya.
Bagi Indonesia, gejolak di bursa Tokyo patut dicermati mengingat Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama dan investor signifikan di sektor otomotif, elektronik, dan infrastruktur. Jika ketidakpastian geopolitik berlanjut, arus modal asing ke Indonesia bisa terpengaruh, terutama di instrumen saham dan obligasi. Selain itu, kenaikan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz berpotensi menekan anggaran subsidi energi Indonesia dan memperlebar defisit neraca perdagangan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan perundingan AS-Iran serta rilis laporan keuangan kuartal kedua perusahaan-perusahaan Jepang. Pertanyaan besarnya: akankah aksi ambil untung berlanjut atau investor kembali mengakumulasi saham teknologi dengan valuasi yang lebih menarik?



